nilai diri

Standar

Ingat ini jika ada orang yang menganggapmu baik/suci. Tidak ada orang yang lepas dari dosa. Yang ada hanya Allah masih menutup aibnya. Bahkan diantara kita yang paling suci, masih tersembunyi sisi cinta terhadap dunia, lena terhadap fana.

Dan ingat ini jika bertemu orang bermaksiat. Bisa jadi nanti tanpa sepengetahuanmu dia tersungkur bersujud memohon ampun, bertaubat. Dan ternyata Allah menerima taubatnya. Di lain sisi kelak dirimu menggigit jari lantaran iri melihat dia memasuki pintu surga disambut bidadari karena buah hasil taubat dan caci maki mu atas maksiatnya.

ini adalah caption postingan instagram kawan saya, di foto yang dia ambil saat kami sedang nenda bersama, dan ini adalah hal yang saya pikirkan sejak lama. entah kenapa rasanya kami sedang satu frekuensi padahal saya belum menceritakan unek unek ini padanya.

semua orang akan berproses, dan kau tak tahu seberapa berat atau ringan yang dia lalui untuk proses itu. tak akan tahu cerita apa sebelum dia mengambil sebuah keputusan. maka, bukankah tak pantas jika kau melabeli seseorang?

Terkadang

Standar

Kadang bakal ada waktu-waktu dimana kamu pengen banget punya seseorang. Apalagi kalo pas lagi ke tempat romantis tapi dateng nya sama kalian-kalian bukannya sama pasangan – Curhatan antar jomblo menahun

Iya, kadang mau se strong apapun, mau sebahagia apapun, bakal ada waktu kita mikir “coba punya seseorang”. Tapi buat aku, waktu itu bukan muncul pas di tempat romantis, tapi selalu pas di situasi yang bahkan temenmu nggak muncul di saat itu. Entah bahagia ataupun sedih. Tapi saat kamu pengen share momen itu bareng orang lain, nggak ada orang disana. Saat ada mimpi yang ingin kau kejar tapi kau berjalan sendiri. Jatuh bangunnya kau rasakan sendiri.

Yah, tapi bukankah hidup tak semulus itu? Karena kalaupun ada seseorang yang muncul, aku bahkan belum tahu apakah aku akan bisa masuk di hidupnya, pun sebaliknya.

Jadi terkadang aku tetap menikmatinya. Berbagi segala hal dengan diri sendiri

Menulis di Pasar (edisi menulis puisi bersama Aan Mansyur)

Standar

Hari minggu lalu, aku mencoba untuk ikut kelas menulis di pasar yang diadakan post santa. Sebuah kelas dadakan yang dibuat karena kebetulan Aan Mansyur sedang berada di Jakarta dan mampir di post. Dan aku tertarik karena 3 minggu sebelumnya aku membeli salah satu bukunya. Ya, memang pengalaman menulisku, terutama puisi, sangat amat cetek karena itu aku mengikuti kelas ini. Dan karena saat itu aku tak membawa catatan, dan agak rikuh untuk mencatat sambil mendengarkan, mari kita gali gali apa yang tertangkap. Kata-katanya tak akan sama persis, tapi aku akan mencoba menyampaikan maksudnya.

Kelas dimulai dengan perkenalan. Seperti biasa, perkenalan dimulai dengan menyebut nama kemudian kami diminta untuk menyampaikan apa yang suka kami tulis. Dan komentar mas Aan, “Mengapa harus menyebutkan nama terlebih dahulu, seolah itu hal yang paling penting. Padahal malah itu yang paling mudah untuk dilupakan.” Dan benar saja, aku membuktikannya saat diminta untuk menyebutkan apa yang aku ingat dari salah satu peserta. Aku ingat bahwa dia kuliah jurusan sastra, menulis tugas, suka membaca fiksi untuk menambah perbendaharaan kata, melatih imajinasi serta untuk membuat tulisannya lebih enak dibaca. Namanya? Aku tak ingat.¬†“Menulis puisi adalah membunuh hal hal klise semacam itu. Sebenarnya penulis adalah pembunuh.” Dan kemudian ilmu bergulir.

“Bahasa adalah kekuatan utama penulis. Tetapi kau harus berhenti untuk melihat kata sebagai jembatan yang kau gunakan untuk menyampaikan makna. Kau harus melihatnya sebagai semesta. Misal saja namun, tapi dan tetapi. Artinya sama. Tapi coba kau dengar. “Namun tetap mencintaimu”,”Tapi tetap mencintaimu”, “Tetapi tetap mencintaimu.” Kau akan merasa bahwa yang pertama terdengar sumbang. Sedangkan yang kedua terasa putus. Yang ketiga baru pas. Rasanya seperti bermain perkusi dengan kata kata. Kalau kau melihat kata kata hanya sebagai jembatan, hanya akan ada dua kemungkinan yang kau capai. Yaitu terlalu terang atau terlalu gelap.”

“Menulis puisi adalah bagaimana kau membunyikan dan menyembunyikan sesuatu secara sekaligus. Walaupun kata-katanya sederhana, kau harus menaruh¬†layer di dalamnya. Agar semua orang yang memiliki karakter, mood, latar belakang pendidikan, dan segala hal yang berbeda dapat sama sama menemukan sesuatu disana. Orang yang baru patah hati ataupun sedang jatuh cinta, mereka harus sama sama menemukan sesuatu. Lapisan itu yang membuat puisimu kaya, sehingga saat seseorang membacanya lagi, dia dapat menemukan hal baru. Misal sebuah puisi yang saat pertama kau baca kau akan melihatnya sebagai puisi cinta. Kemudian kau membaca berita politik, kau akan merasa bahwa puisi tersebut membicarakan politik. Kemudian kau belajar sosiologi, kau menemukan bahwa puisi tersebut membicarakan sosiologi. Puisi tersebut tidak berkembang, tapi ilmu baru membuatmu baru melihat¬†layer itu.”

“Waktu adalah editor terbaik yang pernah kutemui. Waktu dapat memilah bagian mana dari sebuah peristiwa yang layak ditampilkan dalam sebuah puisi. Waktu pula yang memberitahumu apa yang memicu sebuah kenangan muncul kembali. Misalkan pertemuan ini. Aku akan mengingat segala detail pertemuan ini jika aku melihat bunga ini.” Kemudian ia mengambil bunga yang ada di meja. “Mungkin aku tak tahu namanya, tetapi jika aku melihatnya, aku akan ingat. Seperti itu ingatan bekerja. Tak ada manusia yang benar benar melupakan sesuatu. Dia hanya tak memiliki kemampuan untuk memanggilnya kembali.”

“Dan kalau kau berpikir menulis itu mudah, kau salah. Kau harus menumbuhkan kepekaan. Kau harus melakukan riset walaupun rasanya terdengar salah untuk menggabungkan riset dengan menulis puisi. Tapi misal saja bunga ini. Kau harus bisa menggambarkannya dengan baik agar pembaca menangkap maksudnya. Kau memang tahu bunga ini berwarna kuning. Tapi jangan jangan akan dianggap bunga lain karena ada banyak bunga berwarna kuning. Kau harus tau namanya, aromanya, tumbuh di bulan apa, dan lain sebagainya.”

“Menulis itu pekerjaan penulis. Riset itu pekerjaan penulis. Tidur itu pekerjaan penulis. Bahkan berjalan juga pekerjaan penulis. Kau harus mau berjalan untuk dapat menangkap lebih banyak hal. Contoh jika kau naik mobil, kemudian kau melihat temanmu di jalan. Kau hanya akan tahu bahwa kau melihatnya. Misal kau menggunakan motor, kau akan tahu baju yang ia kenakan yang mungkin saja sama dengan yang ia kenakan 2 minggu yang lalu. Jika kau naik sepeda, kau akan melihat sepatu apa yang dikenakan, atau bersama siapa dia berjalan. Sedang kalau kau berjalan, kau akan bisa menyapanya dan bahkan mencium parfumnya. Semakin cepat kendaraan yang kau gunakan, semakin sedikit yang kau lihat.”

“Dulu aku merasa penulis yang miskin itu romantis seperti di film film. Tapi itu salah. Penulis menjadi miskin karena lebih banyak uang yang ia keluarkan untuk membeli buku dibanding hasil penjualan bukunya. Penulis harus banyak membaca. Penulis pertama menyediakan bahan untuk penulis kedua. Tidak ada yang salah dengan terpengaruh orang besar. Malah seharusnya kau bangga. Dan kau akan menjadi semakin baik setelah banyak menulis ulang. Bahkan Ernest Hemingway membuat 10 versi dari satu cerita untuk dipilih dan kemudian menulis ulang cerita tersebut.”

“Dan puisi tak melulu tentang isi. Puisi¬†adalah bagaimana mengemas isi dan isi membuat kemasannya menarik. Konsep dan bentuk memang harus ikut dipikirkan. Dan tak perlu pusing memikirkan gaya. Menulislah sebanyak-banyaknya hingga gaya menemukanmu.”

Hanya orang yang tak dapat berdamai dengan kesunyiannya yang akan selalu mengejar sesuatu yang sebenarnya semu

Celebrating 8 years of friendship

Standar

I love to make a lot of acquaintance and friends and meet new people. Bahkan ada temen yang bilang “Pergaulanmu yang terlalu luas, atau dunia emang terlalu sempit sih? Tiap kemana ada aja ketemu orang yang ternyata temen kamu atau paling nggak kenal kamu”.

Tapi sebenernya bisa dibilang aku bukan orang yang segitunya tentang temen. Bisa dibilang bukan orang yang suka nge chat personal buat basa basi lagi apa sekarang dimana apa kabar dan sebagainya. Jadi ya bisa dibilang siklus pertemananku sama seseorang tu on off. Kadang deket, kadang biasa aja. Karena aku lebih nyaman untuk chat ngajak ketemu kemudian ngobrol aja gitu langsung. Lebih nyaman untuk ketemu tiap minggu dibanding chat tiap hari.

Dan dari sekian yang on off itu, ada beberapa yang dari awal sampe detik ini masih deket dan rutin ketemu. Aku kenal mereka waktu kelas 2 SMA, berarti tahun 2007. Dari yang kerjaannya cuma nongkrong di rumah temen, kalo sabtu nonton di CL, minggu pagi basketan di kampus elektro, belajar bareng pas pulang sekolah, atau sekedar rusuh di parkiran. Pernah juga sih main ke curug dan nyobain sidomukti waktu awal awal dibuka.

4403_1088141839635_2394523_n

1915568_1105765725687_3914782_n

4403_1088141879636_2483003_n

Kelas 3 ternyata kelas kita nggak diacak dan jadi tetep sekelas sama mereka. Ya walaupun kelas 3 udah agak tobat. Nontonnya agak berkurang, dan intensitas belajar bareng nya yang nambah.

foto kelas

Masuk kuliah, kita semua mencar. Bahkan ada yang kuliah di luar Semarang. Tapi setiap dia pulang, kita pasti sempetin buat kumpul walaupun kadang cuma di tusam aja. Dan untung tetep ada yang sering bikin acara di rumah dan kita semua diundang. Kadang masih suka beberapa kali renang bareng juga. Hal-hal ini yang bikin kita tetep saling tau kabar masing-masing, walaupun yang kumpul ya itu itu aja.

1933913_1100699728816_3514012_n

1909788_1208560938118_4753102_n

26041_1210181665796_1249770_n

18177_1171487018454_4137193_n

1917242_1113874978189_2185297_n

1919323_1168912544318_4642852_n

Beberapa dari kita kuliahnya D3, jadi udah lulus setelah kuliah 3 tahun dan ada yang udah mulai kerja di luar pulau. Sedangkan aku sendiri mulai KP. Tapi entah gimana nyatanya kita masih bisa kumpul dan main bareng.

Dan sekarang, geng tetap kumpul di sekitaran Jakarta. Ada yang kerja di Jakarta, Tangerang, Bekasi, kuliah di Bogor, Bandung. Dan efeknya makin sering ketemu. Kita emang bukan yang menye menye tau segala hal tentang masing-masing. Tapi ketemu mereka tetep nyenengin. Nggak pernah kehabisan bahan untuk dibahas atau tempat buat dikunjungi.

24cb46a7-11a5-47de-a78e-ac8111f03a45

80ec393c-a5a4-42ec-823a-e3772eff6ba2

 

It’s 2015 now. More than 8 years we pass through. And I hope we still can be friends foreverūüôā

If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime

Makan Enak di Gunung

Standar

Kata siapa naik gunung melulu makan mi instan, sarden, kornet, atau mentok mentok nasi sayur sop? Kali ini aku pengen cerita piknik asik ku di Gunung Papandayan dengan menu kuliner yang sedikit beda dari biasanya.

 

Naik gunung kali ini bisa dibilang aku super niat buat makanannya. Dari ke supermarket sampe pagi pagi mampir ke budhe belanjaan buat beli ini itu, yang kemudian bingung sendiri packing nya karena cuma punya carier ukuran 30 liter sedangkan aku kebiasa bawa banyak barang printilan jadi selalu penuh.

Nah, karena emang mau cerita tentang kulinernya, kita langsung skip ke bagian masak-masak ya. O iya, kebetulan kita ketemu anak smp sama sma waktu di busway dan akhirnya gabung kelompok sama mereka (kita 4 orang, mereka 3 orang), jadi kita sempet sharing makanan juga.

 

Kita sampe di daerah pondok saladah sekitar jam setengah 11. Selesai buka tenda, pasti langsung buka kompor dong. Dan yang pertama kali kita bikin adalah coklat papa bear buat anget anget perut. Karena masih kepagian buat makan siang dan kita masih agak kenyang karena udah sarapan di warung bawah, kita akhirnya bikin sandwich. Ada dua macam sandwich yang kita bikin yaitu sandwich kornet keju, sama sandwich pisang coklat keju. Untuk sandwich kornet keju aku cuma tumis kornet sachet (nasting nya dilapis akumunium foil biar gampang bersihinnya) terus ditabur keju parut (iya, aku bawa bawa parutan ke gunung. alumunium foil gulungan juga). Sedangkan satunya ya cuma potong potong pisang yang kebetulan malamnya beli di pasar malam, tabur meses, sama parutan keju. Sedangkan adek adek itu masak mi instan sama kopi instan.

Habis leyeh leyeh, main kartu, ngobrol ngobrol, dan beberapa dari kita tidur siang, aku sama rifwan ke mushola di pondok saladah. Niatnya sih habis itu mau ke tegal alun sekitar jam 2. Eh ternyata waktu kita balik itu adek adek lagi masak. Ya udahlah, kita bantuin dulu dan niat buat naik di pending setelah makan siang. Menu makan siang kali ini nasi, sayur sop (yang isiannya wortel, kentang, buncis, kol, bakso. Aku cuma urun buncis sama wortel disini), tempe goreng (ini aku yang bawa karena tempe mereka ternyata busuk), sama nugget dan sosis goreng. Dan ya walaupun mereka yang mulai masak, pada akhirnya nasi jadi tanggung jawab rifwan dan sayur sop plus tempe jadi tanggung jawabku (karena adeknya bahkan nggak paham prinsip masak sayur sop harus sayur keras dulu yang dimasukin sedangkan daun bawang terakhir. Dan mereka ngabur buat sholat). Udah berasa master chef deh ngadepin dua kompor nyala sekaligus.

Turun dari tegal alun kondisi udah mulai gelap, dan kita basah kehujanan. Jadi hal berikutnya setelah kita ganti baju, beresin tenda plus fly sheet biar nggak bocor, pasti langsung gelar kompor lagi. Dan ya karena hujan juga, kita awali sama yang anget anget. Lagi lagi kita seduh coklat papa bear. Lanjut si yoga ngeracik menu rahasia yaitu jahe, kencur, jeruk nipis. Minuman ini enak. Anget seger gimana gitu. Lanjut lagi bikin teh tubruk. Nggak tau kenapa aku sama anak-anak cukup nagih sama teh ini. Sedangkan si adek bikin kopi instan lagi. Dan ya kita tuker tukeran minuman.

Udah mulai laper, saatnya makan. Sayang adek adek dah pada capek jadi nggak ngerasain masakan kita. Padahal kita masak¬†pizza. Kebetulan waktu ke supermarket aku nemu pizza dough isi 3 yang kebetulan juga ukurannya pas sama teflonnya yoga. Berhubung memang nggak mungkin di oven, jadi kita panasin aja di atas teflon yang sebelumnya dikasih margarin. Untuk toppingnya, kita tumis bawang bombay, sosis, sama smoke beef. Jadi setelah manasin satu sisi pizza, sisi satunya kita oles saus tomat, masukin tumisan topping, tabur keju quick melt, tutup, and let the magic begin. Di masakan terakhir, kita tambah telur di tumisan toppingnya jadi agak beda sama yang sebelumnya. Jangan bayangin pizza nya kaya pizzah*t ya. Pizza ini tekstur roti nya renyah mirip crackers. Kalo yang pernah makan pizza di vien’s resto semarang, nah ini sama. Enak deh pokoknya. Dan ini adalah makanan penutup hari karena setelah itu kita beres beres, main kartu, berantem masalah siapa yang tidur di luar (karena ada kejadian frame ketinggalan jadi cuma ada 1 tenda 2p yang berdiri sedangkan kita berempat dengan kondisi 2 orang badannya gede), dan akhirnya tidur dengan nyenyak.

c3fd01ed-c54c-41a3-bdf9-384e1932ef26

401ab389-1f7a-4b42-8c6f-9eb80350f63c

Pagi hari kita agak males-malesan karena suasana emang mendukung buat terus-terusan tidur. Kabut pekat, cuaca dingin, bener-bener bikin males bangun deh. Akhirnya beneran bangun karena adek-adek bangun, yoga nggak enak di tenda mereka dan balik ke tenda kita. Karena udah jadi berempat lagi, kita udah nggak mungkin tiduran (walaupun betet tetep aja masih tiduran). Dan saatnya sarapan! Kali ini aku wanti wanti adek-adek buat nggak masak karena bahan kita masih buanyak, takut nggak kemakan. Ya walaupun si adek tetep masak mi instan sama kopi sih.

Kita langsung gelar dua kompor. Di teras belakang rifwan bikin minum sedangkan di teras depan aku sama yoga sibuk bikin¬†pancake. Betet? Jadi pembantu umum yang kita teriakin “Tet, ambilin telur. Tet, ambilin keju. Tet, cariin gula”. Selesai bikin minuman, betet sama rifwan aku pasrahin buat masak¬†makaroni. Berhubung makaroni udah hampir mateng, aku beralih ke nyiapin bumbu buat makaroni. Motong bawang putih, bawang bombay, sosis, smoke beef sedangkan betet gantian bantu yoga nyelesaiin pancake. Makaroni mateng, rifwan gemes liat kentang nganggur dan punya inisiatif bikin¬†mashed potatoes sedangkan aku ngolah makaroni. numis bumbu yang udah disiapin, tambahin telur, masukin ke makaroni yang udah mateng, tambah saos gula garem, parut keju, dan jadi deh. Pancake juga udah mateng tinggal kasih maple syrup sama meses. Mashed potatoes nya akhirnya dibumbuin pake bumbu kentang goreng. Dan dapet sumbangan nugget, sosis, sama bakso goreng dari adek adek. What a perfect breakfast

056110bf-bd44-4979-b597-282d8e53986e

243828e0-8679-4d46-b35a-1644adb5a7e5

 

PS : kalo mau masak niat kaya gini tetep sesuaiin sama kondisi gunungnya ya. Aku berani niat karena papandayan termasuk gunung santai jadi walaupun logistik banyak masih nggak terlalu jadi beban. Air juga melimpah walaupun masakan kita nggak makan banyak air sih sebenernya. Tapi bisa jadi bukti kan kalo masih tetep bisa party.

O iya, perhatiin sampah yang dihasilkan ya, jangan dibuang sembarangan walaupun cuma potongan pembungkus makanan. Jangan nyuci pake sabun juga waktu di atas karena bahan kimia nya ngerusak tanah. Sedia aja jeruk nipis biar nggak amis. Bawa kanebo bisa menghemat banyak tisu untuk lap lap nya. Bawa alumunium foil ngebantu kalo masak yang rawan nempel di nasting jadi nyuci nya gampang.

Untuk packing sih aku bawa tempat makan jadi bahan makanan bisa masuk sekaligus buat piring/mangkok pas makan. Kalo kebetulan kamu juga yang bawa nasting, bisa tuh dimasukin nasting. Hati hati kalo bawa telur walaupun sekarang udah ada tempat khususnya, tapi tetep bungkus lagi pakai kertas. Bahan yang di kardus dibongkar buat hemat tempat. Cari kemasan se kecil mungkin biar bisa diseselin. Dan untung lagi carier ku ada front load nya jadi nggak perlu bongkar semua dan beresinnya lagi juga gampang.

Yah, DU aways be DU. And I enjoy it very much.

Standar

Mengapa harus ada banyak hal dari kami yang begitu mirip? Bahkan apa yang ingin kujadikan pelarian saat ini dia lakukan juga. Apa yang aku berusaha hindari, entah bagaimana pada akhirnya harus aku hadapi. Aku tahu, mungkin memang perlu berdamai, tapi aku rasa saat ini belum waktunya. Atau mungkin aku memang tak akan pernah siap berdamai dengan nya.