Merapiku, Merapimu, Merapi kita (Part 1 – Pendakian)

Standar

Kalau ditanya gunung apa yang paling berkesan, pasti aku jawab Gunung Merapi. Bukan karena aku tinggal disana, bukan. Bukan juga karena gunung yang paling aku sering daki, bukan. Gunung yang paling sering kukunjungi itu Gunung Ungaran, setahun hampir dua kali kesana buat diksar sama pelantikan. Aku memang nggak terlalu banyak ndaki, tapi Merapi cukup sering aku kunjungi

Pendakian Pertama, Desember 2009

Gunung Merapi adalah gunung pertama yang aku daki. Jadi ceritanya Desember 2009 ada serah terima jabatan mapateksi. Dan kebetulan waktu itu calon anggota (anak-anak yang pengen masuk mapateksi) boleh gabung jadi panitia. Dan aku milih jadi PJ survey. Sempet agak diomelin tuh, cewek kok jadi tim survey. Tapi setelah ngeyel akhirnya dibolehin juga.

Sekitar seminggu sebelum acara, kita survey langsung ke TKP. Dan karena saya anak baru dan belom pernah naik gunung, aku ngrayu anggota buat aku ngajak dua temen SMA ku, yoga dan rifwan, yang juga dedengkot resmaepala (sispala nya SMA 4 Semarang). jadilah aku, yoga, rifwan, imam komting, uban, mas yayan, mas iqbal berangkat ke Merapi.

Aku nggak inget jam berapa kita mulai ndaki. Kalo nggak salah sih sekitar jam 1 pagi. Namanya juga pendakian pertama, jadi maklumin aja kalo lama. Apalagi jalan dari basecamp ke tulisan “new selo”, berat banget. Langsung nanjak dan jalan aspal. Kalo kata orang, lebih enak nanjak di dalem hutan daripada jalanan aspal. Tapi setelah dapet ritmenya, udah mulai enak dan nggak banyak istirahat. Kata rifwan sih aku kebalik sama kebanyakan orang yang biasanya semangat di awal tapi setelah setengah jalan mulai banyak berhenti dan melambat.

Kita sampe pasar bubrah pas matahari mulai muncul. Tapi sayangnya cuaca hari itu nggak terlalu baik. Kabut tebel, angin kenceng, sampe kita sempet ngeliat tenda terbang. Mas yayan sama mas iqbal lanjut ke puncak, ngejar sunrise katanya. Sedangkan kita berlindung di sela sela batu besar sambil berusaha bikin kopi panas.

Begitu kabut mulai hilang, baru deh kita berlima nyusulin ke puncak. Dan jalan ke puncak ini emang harus ekstra hati-hati. Kerikil dan batu-batu kecil dimana-mana. Nggak ada jalur pasti, asal kamu lihat ada jalan yang cukup kokoh buat diinjek, lewat aja. Dan kita harus peka denger teriakan dari atas yang ngasih tahu ada batu jatuh. Tapi pemandangan di puncak emang jos banget walau masih tetep berkabut. dan yang jelas sih kita foto-foto yang banyaak.

Setelah puas dan mulai panas, akhirnya kita turun dan aku super kaget karena jalurnya ternyata terjal banget. Aku sampe tanya apa iya ini jalur yang semalem kita lewatin. Jadi emang bener sebaiknya kita (apalagi pemula) naik itu pas malem. Selain dapet sunrise, kita juga nggak pesimis sama medan yang kita daki.

15864_1172655917900_5319921_n edit

15864_1168912544318_4642852_nPS : ya, fotonya ada item-itemnya. itu fotoku sengaja aku ilangin. waktu itu belom pake jilbab. hehe 🙂

 

Pandakian kedua, Desember 2009

Seminggu kemudian kita ke Merapi lagi. Dan aku diminta jadi tim advent yang berangkat sehari sebelum acara. Kalo nggak salah waktu itu aku, mas mukti, mas langlang, mas yayan yang berangkat duluan. Sore mereka naik lagi ke puncak buat ngecek ulang, dan aku stay di basecamp. Selain mereka butuh cepet, harus ada orang yang stay buat ngecek makanan plus nyiapin kalo rombongan dateng.

STJ kali ini merupakan penyerahan jabatan dari mas yanto ke mas sendi. Dan acara ini boleh diikuti sama mahasiswa sipil secara umum. Dan 2007 yang paling rame. 2009 yang mau gabung ke mapateksi juga banyak yang ikut. Cuacanya bagus hari itu. Tapi pulangnya aku perosotan sama nurul gara-gara capek kepeleset dan diketawain mas yayan sama mas sendi sepanjang jalan. Dan mereka berdua ini setia banget nemenin kita padahal mereka bisa lari dan sampe duluan.

 

Pendakian ketiga, November 2011

Ini adalah pendakian berikutnya ke Merapi, dan pendakian kali ini membawa misi mulia, yaitu penanaman selain juga serah terima jabatan dari mas yayan ke fiqi. Sebelum ini, pada tahun 2010, Merapi meletus cukup besar. Dan letusan ini mengakibatkan Merapi yang udah gersang jadi makin gersang. Berhubung kami adalah pecinta alam, kami juga harus menjaga kestabilan alam doong. ahay.

Pendakian ini cukup gila buat beberapa orang, karena ada dua agenda yang tabrakan yaitu kunjungan Himpunan ke UGM dan penanaman Merapi. Buat kita yang ikut dua organisasi tersebut pasti pengen ikut dua-duanya dong. Jadilah aku, mas mukti, mas osa, mas hamanda, beserta boncengan kita masing-masing yaitu mas randy, mbak arika dan mas putra, menggila muterin gunung Merapi dari jogja ke boyolali. (ya, jogja memang kaki gunung merapi dan ada jalur ke puncak. tapi itu jalur lahar. jalur pendakian yang aman itu lewat selo, boyolali).

Berhubung aku masih berasa capek, aku turun belakangan. Waktu itu sempet ngikut rombongan, tapi karena berbagai hal akhirnya pada kepencar. Dan yang paling heboh adalah waktu kita nemu simpangan dan aku nggak yakin lewat mana. Udah dua tahun yang lalu aku ke Merapi dan nggak pernah jalan sendiri. Eh kebetulan ada mbak sama mas di depan kita, entah rombongan yang ikut acara mapateksi (buat umum soalnya) atau kebetulan lagi ndaki juga. Mereka ambil kiri, ya udah kita ikutin. Eh tiba-tiba mereka belok ke kanan (waktu itu jarak kita lumayan jauh). Dan di tempat kita liat mereka belok itu kita nggak nemu jalan. Nah lho, mereka tadi nerabas lewat mana coba. Karena nggak yakin dan mbak mas itu udah nggak kelihatan, kita coba aja ngikutin jalan. Beberapa kali kita ketemu pencari rumput. Bilangnya sih jalan ini bisa tembus ke basecamp walau aku tahu ini bukan jalan yang dulu pernah aku lewatin. Puncaknya, jalan itu buntu. Di depan kita ada kebun sayur, dan kanan kiri rumput-rumput. Oke, fix kita berdua nyasar!

Disitu udah bener-bener punya pikiran buat niup peluit dan teriak Mapateksi biar ditolongin. Tapi nggak mungkin aku nunjukin muka panik doong. Sayup-sayup kita denger suara-suara banyak orang. Feelingku sih kita udah deket sama new selo, akhirnya kita puter balik dan belok ke kiri (menurut kita, kita berdua terlalu ke kiri kalo dilihat dari puncak). Dan ternyata jalur itu turun curam habis itu nanjak hebat. Keluar dari jalan kecil itu, kita nemu jalan setapak yang agak lebar dan aku samar-samar kenal sama daerahnya. Bener aja, kita nembus di deket New Selo dan kepisah satu lembah. Bener-bener bersyukur deh ketemu jalannya dan bisa balik lagi.

Tapi sayang gara-gara itu kita nggak ikut nanem karena udah mau selesai dan semua bibit udah disebar. Dan nggak banyak foto-foto juga gara-gara nggak ikut upacara (kram perut jadi anteng aja di tenda DU)

(itu dia si fiqi, ketua dari angkatan Eka Kulasentana)

 

Itu dia beberapa cerita tentang Merapi bab pendakian yang pernah aku lewatin. Tunggu cerita Merapi bab berikutnya yaa (berasa kaya buku aja ada bab nya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s