Standar

Ini bukan angin, hanya sekedar udara kering. Kehadirannya bahkan tak menyejukkanmu. Dan mengapa kau masih bertahan?

Aku tahu, ini hanya udara yang membuat dada sesak. Mencekik dan membunuh perlahan-lahan. Tapi bukankah rasa sakit adalah sinyal bahwa sesuatu masih hidup? Bahwa kau masih memiliki hal yang disebut rasa. Dan aku menikmatinya. Perih. Dan aku menikmatinya.

Mengapa kau terus berlari mengejarnya, bahkan saat dia terus memacu untuk menjauh. Menciptakan jarak yang semakin tak terjangkau.

Aku tahu dia berlari menjauh. Dan mungkin aku tak akan mampu menyusulnya. Tapi aku masih ingin bergerak. Aku tak ingin berbalik arah. Bukankah kegigihan akan membuahkan hasil?

Dan mengapa kau menutup telingamu, terus mengabaikan suara yang memberitahumu untuk berhenti.

Aku tahu apa yang mereka bicarakan. Dan aku tak perduli kata kata nyinyir yang mereka lontarkan. Biarkan saja mereka berbicara hingga berbusa. Aku tak perduli.

Bukankah kau hanya akan mengulang kebodohan yang sama? Dan kau tahu bagaimana akhirnya.

Aku tahu aku layaknya orang bodoh, Tapi ada bagian kecil disini yang tak menginginkan kesempatan ini berlalu. Dan bagaimana kau tahu bagaimana akhirnya? Kau hanya bergumam dengan segala macam teori dan analisa. Apakah kau yang memegang jalannya takdir? Tidak.

Apakah belum cukup banyak guratan-guratan di sana? apakah masih ada tempat untuk luka baru?

Aku tak seperti kau. Aku memiliki tempat yang sangat luas untuk banyak hal. Termasuk untuk rasa sakit. 

Apakah kau siap?

Aku tak tahu apa yang harus dipersiapkan.

Itu artinya kau tak siap

Apakah salah jika aku tak siap?

Kau akan limbung saat semuanya tak berjalan sesuai keinginanmu

Aku bahkan tak memiliki keinginan

Kau mengejarnya. Terus dan terus. Ada keinginan disana. Mengapa kau tak paham juga? Dan pada akhirnya kau selalu berdarah-darah. Dan aku juga. Aku hanya ingin melindungimu, melindungiku. Berhentilah.

Aku tak ingin berhenti. Apa yang salah dengan berharap?

Apakah kau sadar kalau kau telah bersikap egois?

Bukankah semua orang egois? Pun dia.

Aku tak ingin bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi. Tanggung sendiri akibatnya. Aku tak ingin melihat kau merengek saat semuanya memburuk.

Dan pada akhrinya, kau pun meninggalkanku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s