Main-Main ke Taman Ismail Marzuki

Standar

Sebenernya ini latepost sih, tapi nggak papa lah ya, yang penting berbagi. Ahahaha

Buatku, Taman Ismail Marzuki merupakan salah satu tempat favorit buat main. Berhubung aku orangnya emang nggak bisa anteng, jadi tiap weekend pasti cari cari acara. Pertama sih biasanya tanya mbah google lagi ada event apa di Jakarta di hari itu. Kalo nggak ada yang menarik, buka web nya Taman Ismail Marzuki, cari lagi ada kegiatan apa disana. Kalo nggak ada juga ya antara mbolang atau jaga kontrakan.

Sejak merantau, aku udah beberapa kali ke Taman Ismail Marzuki. Emang nggak terlalu sering sih, tapi seru.

Yang pertama, waktu lagi jalan-jalan nggak jelas sama Mamet sama Syafiiq. Awalnya sih aku minta temenin nyari tau dimana gedung PPM, dan waktu liat liat sekitar, kita liat papan penunjuk ke TIM. Jadi ya sudah, jalan lah kita kesana. Tapi sayangnya waktu kita kesana planetarium tutup dan nggak ada event. Jadi cuma muter muter aja disana.

Kedua, kita nonton teater disana. Kebetulan waktu itu temen lagi main dari Semarang, dan tante nya adalah salah satu orang Kayan, penyelenggara rutin teater di TIM. Ya walaupun sebenernya kita nggak dapet tiket, berkat tantenya Cindy, kita tetep bisa masuk dan nonton sambil selonjoran di tangga. Kali itu judulnya Roman Made in Bali. Pertunjukan ini menceritakan tentang dua orang pria. Roman (diperankan Cak Lontong), pra warga negara Kanada dan Made (diperankan oleh Balawan), pria asli Bali. Mereka berdua memperebutkan satu wanita Bali yang canti, Sita (diperankan oleh Ayushita).

Teater ini disutradarai oleh Butet Kertaradjasa. Bukan sekedar teater, tapi disini juga ada humor yang didominasi dari Cak Lontong, Akbar, Marwoto. Beberapa kali Balawan juga tampil diiringi band nya. Ada dua penyanyi yang mengiringi monolog dari Ayushita. Dan ada pesan tentang penolakan reklamasi Bali disana.

Dicintai satu lelaki adalah anugerah. Dicintai dua lelaki sekaligus adalah musibah.

Roman Made in Bali

Roman Made in Bali

Untitled

Untitled

Kali ketiga, kebetulan ada event dari Pekan Komponis Indonesia tentang keroncong. Sebenernya ada rangkaian acaranya, tapi berhubung pada punya kesibukan beda beda, akhirnya kita dengerin salah satu konsernya aja. Namanya janjian sama banyak orang, dan datengnya nggak dalam waktu yang sama, kita masuk waktu pertunjukan udah mulai.

Ada 4 performer malam itu, membawakan keroncong dengan style masing masing. Dari keroncong klasik, hingga keroncong pesisir, semuanya memukau. Rasanya kembali ke masa kecil, waktu itu Papa (sebenernya sih om, tapi aku panggil papa) dan saudaranya Mama sering main keroncong dan latihan di rumah. Beberapa lagu yang dibawakan pun aku sering denger waktu jaman kecil. Dari lagu Bengawan Solo, hingga Caping Gunung. Tak ketinggalan Keroncong Kemayoran, Gambang Semarang, juga Aksi Kucing. Memang beberapa aku baru pertama kali denger, tapi semuanya menghipnotis.

Untitled

Dan minggu kemaren, kita ke TIM lagi. Kali ini buat nonton film gratis sebagai bagian dari rangkaian acara Pameran Aku Diponegoro. Film ini diputar oleh Kineforum, dan ada dua film yang rencananya diputar, Pahlawan Goa Selarong dan November 1828. Keduanya masih berhubungan dengan Pangeran Diponegoro.

Setelah muter-muter dan bingung dimana letak kineforum, sampe sana ternyata masih belom bisa daftar. Alhasil kita liat pameran fotografi dan pasar barang mantan dari Kelas Pagi dulu di Galeri Cipta III. Setelah itu kita balik buat daftar dan nunggu sampe film dimulai. Tiba-tiba, film nya lagi ada masalah, jadi kita ditawarin buat nonton film satu nya, November 1828.

Film ini memamerkan tradisi masyarakat Jawa yang sangat liat untuk ditindas. Di tengah suasana perang Diponegoro, Kapitein De Borst (Slamet Rahardjo), indo yang sangat ingin jadi Belanda murni, hendak membuktikan diri sebagai prajurit hebat. Pembuktian itu bisa diperoleh bila dia berhasil menangkap Sentot Prawirodirdjo, otak peperangan Diponegoro. Kisahnya berlangsung di desa Sambiroto November 1828. Untuk maksud ini, De Borst menggunakan segala cara dan tak memperdulikan nyawa orang. Di pihak lain pengikut Sentot menyusun perlawanan dengan sangat licin, hingga bisa memasuki seluruh lapisan pertahanan Belanda dan selalu tahu rencana-rencana Belanda. Puncak ketegangan adalah konflik antara De Borst dengan Kromoludiro (Maruli Sitompul). Untuk mengetahui persembunyian Sentot, De Borst memaksa Kromoludiro buka mulut, antara lain dengan menyandera istri dan anaknya yang masih bayi. (diambil dari indonesianfilmcenter.com)

Untitled

Saatnya nongkrong sambil mengapresiasi seni anak bangsa, bukan sekedar nongkrong di mall atau cafe mahal 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s