Monthly Archives: April 2015

Trip to Gunung Gede

Standar

Selamat pagi kawan. Bagaimana long weekend kemaren? Seru? Aku juga dong. Hihihi.

Tanggal 3-5 April kemaren memang long weekend, dan sesuai kesepakatan beberapa minggu yang lalu, aku dan temen-temen mau naik ke Gunung Gede. Sempet galau sih antara Gede, Pangrango, atau Prau. Tapi setelah dipertimbangkan masalah jarak dan rute, akhirnya kita pergi ke Gunung Gede.

Naik Gunung Gede dan Pangrango itu nggak sesimpel gunung lain yang tinggal dateng, laporan di beskem, langsung jalan. Kalau disini harus daftar dari jauh-jauh hari via website, terus ngurus simaksi dan lain-lainnya. Dan karena ini long weekend, kuota buat hari Jumat nya udah penuh. Alhasil kita harus puas naik di hari Sabtu-Minggu dengan resiko pulang naik langsung berangkat kerja

Skip skip. Kita sepakat buat kumpul di terminal Kampung Rambutan selepas isya, sekitar jam 7. Tapi berhubung satu dan hal lainnya, kita baru bisa kumpul jam 10 dan berangkat jam 11. Ada banyak bis yang bisa kita naikin, yang penting arahnya ke Cianjur atau Bandung. Kalo mau lewat jalur Cibodas, kita turun di Cibodas. Kalo mau lewat jalur Gunung Putri, kita turun di Cipanas. Tarif bis ini sekitar 25.000. Nanti disana ada banyak angkot yang siap disewa buat naik ke pos pendakian. Masalah harga sih tergantung nego, biasanya kisaran 10.000.

Setelah diskusi dan denger pendapat sana sini, kita memutuskan untuk naik lewat Gunung Putri dan turunnya baru lewat Cibodas. Jadilah kita turun di Cipanas kemudian ngangkot sama rombongan nya bang Rahmat, temen yang minjemin kita tenda. Berhubung jalannya memang nggak baik dan muatan yang berat, angkot kita nggak kuat buat sampe di pos pendakian dan harus puas di tiga perempat jalan, yang kemudian dilanjut jalan kaki.

Peta Pendakian Gunung Gede

Peta Pendakian Gunung Gede

Jam menunjukkan pukul 1 pagi, dan kita isi tenaga dulu. Banyak rumah yang berubah jadi warung nasi dan punya kamar untuk disewain ke pendaki yang mau istirahat. Kita mah cukup ngemper di depan rumah orang nunggu subuh baru naik. Jam 5 pagi kita naik ke pos simaksi buat lapor. Sempet agak ribet karena Kang Nunu, orang yang kita hubungi untuk masalah simaksi ini, nggak bisa ditelfon, tapi nggak lama beres juga dan kita diperbolehkan lewat setelah diingetin masalah peraturan. O iya, disini dilarang bawa alat-alat kebersihan yang mengandung detergen yang menghasilkan busa dan ngerusak lingkungan. Kalau pisau sih boleh, sebenernya harus malah.

Jalur Gunung Putri dibuka dengan kebun-kebun yang tertata baik. Ada bawang, wortel, kubis, dan segala sayuran segar lainnya. Track nya masih santai karena memang masih perkebunan. Tapi kemudian mulai menanjak tak ada habisnya. Jalurnya di dominasi oleh hutan dengan pijakan tanah. Jalur ini juga relatif lebih dekat dibanding jalur Cibodas, yaitu 8,5 km ke puncak sedangkan Cibodas 10,5 km ke puncak. Hanya saja memang pemandangannya cukup membosankan dan kalau hujan langsung berubah menjadi genangan lumpur, super licin, dan kalau deras bisa menjadi miniatur sungai karena air mengalir di jalur pendakian. Harus siap cukup banyak air juga karena sumber air hanya ada di alun-alun suryakencana.

Berhubung kita memang super duper nyantai, kita banyak berhenti dan setiap berhenti sering lama. Beberapa kali kita buka bekal dan masak, tidur, dan sempat sekali buka flysheet karena hujan cukup deras. Efeknya, kita menempuh total waktu 12 jam sampai di suryakencana 😀

O iya, waktu itu banyak banget pendaki, ada beberapa penmas juga jadi super duper rame. Tapi akhirnya kita dapet spot gelar tenda yang enak dan nggak terlalu jauh. setelah tenda berdiri dengan selamat, kita para cewek cewek langsung bersih-bersih dan ganti baju sedangkan yang cowok udah siap gelar dapur dan flysheet. Kenyang makan, aku masih sempet ngobrol sebentar sedangkan cewek lain udah melingker di sb masing-masing. Yang pada akhirnya aku juga ikut tepar dan tidur duluan.

Pagi hari, saat nya lihat sunrise. Sebenernya dari sini nggak terlalu kelihatan sih karena timur nya ketutup. Tapi berhubung langit cerah, masih dapet kok semburat merah nya. Selesai menikmati sunrise, foto-foto, bikin video nggak jelas, kita lanjut bikin sarapan. Masakan jadi, waktunya beres-beres dan packing disambi makan yang entah kenapa menurutku super duper lama. Dari ngeluarin isi tenda, ngelipet, masukin barang, rasanya kita semua mendadak lelet. Hahaha.

sarapan ala ala bule. roti gandum bakar, telur orak arik, kornet, keju bakar

sarapan ala ala bule. roti gandum bakar, telur orak arik, kornet, keju bakar

alun alun suryakencana

alun alun suryakencana

Jam 10 kita mulai jalan lagi. Udah jalan kita baru sadar kalo ternyata banyak spot bagus buat foto jadi ya nyandet nyandet deh perjalanannya karena pengen foto sana sini. Sebelum ke puncak, ada sumber air yang bisa kita ambil airnya buat bekal selanjutnya. Perjalanan ke puncak masih tetp didominasi hutan dan tanjakan yang lumayan bikin pegel. Waktu itu sih kita butuh waktu 1-1,5 jam buat sampe puncak. Puncak Gunung Gede termasuk kecil, dan karena rame udah kayak pasar pindah.

DSC_0501

DSC_0514

foto bareng pendaki lain

foto bareng pendaki lain

Read the rest of this entry

Jodoh

Standar

Ya, jodoh emang unik, dan misterius. Tak peduli seberapa besar kita menginginkannya, dan mengejarnya, kalau Allah tak menuliskan kalau kita berjodoh, ya tak akan bisa. Tapi kalau memang dituliskan, pasti akan ada saatnya untuk dipertemukan, dan semesta mendukung. Dan jodoh adalah tentang seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya, dan menunggu dengan sabar untuk digantikan yang lebih baik.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba banyak grup whatsapp dan line yang rame, dan muncul foto undangan pernikahan teman disana. Bisa dibilang perfect couple, tapi cukup kaget karena terasa mendadak dan kami belum pernah mendengar kalau mereka dekat. Sempat ragu, ini berita benar atau hanya desas desus, walaupun tak mungkin ada yang se iseng itu sampai bikin undangan nikah kalaupun kabar ini bohong. Dan yang bikin ragu karena foto ini tersebar bukan dari mempelai, dan mempelai belum muncul untuk berkomentar di grup tersebut. Dan entah kenapa, akses untuk mengkonfirmasi berita tersebut juga sulit. Pihak pria sulit dihubungi. Sedangkan yang wanita aku tak terlalu akrab, bahkan tak punya nomor nya.

Sampai tiba-tiba kemarin siang sang laki-laki muncul, mengkonfirmasi kebenarannya, dan berkata bahwa sebenarnya masih ingin menunda menyebar undangan. Dan malamnya, mas yang satu ini menghubungiku via chat, dengan id yang berbeda dari yang aku simpan. Kami memang kenal, beberapa kali ngobrol, walau tak terlampau dekat. Mas ini mempertanyakan seberapa luas kabar sudah beredar. Tapi namanya kampus, desas desus dengan cepat menguar, apalagi menyangkut orang-orang penting seperti mereka berdua.

Dari situ aku bertanya tentang proses mereka berdua. Karena aku tak pernah tahu bahwa mereka dekat. Bahkan saat di pernikahan kawan beberapa bulan yang lalu, mereka berdua tak ada interaksi apa pun. Dan ternyata mereka memang ber ta’aruf, saling mengenal tanpa berduaan dan selalu melalui perantara. Cukup mereka, perantara dan keluarga yang tahu bahwa mereka memiliki rencana indah untuk nantinya menikah.

Dia bilang, mungkin kita tak tahu apakah proses ini memang benar. Tapi setidaknya mereka menghindar dari apa yang dilarang. Meminta petunjuk, dan berkenalan pribadi melalui surat yang disampaikan perantara. Tak ada komunikasi lain secara langsung sampai persiapan pernikahan. Apalagi mengumbar kemesraan di depan umum. Dan aku, benar-benar terpukau dengan ceritanya.

Aku memang masih dalam posisi bimbang tentang masalah hati. Dan aku masih dalam proses berprasangka baik terhadap Allah, bahwa mungkin aku memang sedang dijauhkan dari orang yang salah. Bahwa ini adalah tanda dari Allah bahwa dia bukan jodohku. Bahwa terlalu dekat masalah hati dengan lawan jenis tak membawa kebaikan. Dan mungkin ini waktunya untuk belajar menjaga hati dan sikap.

Aku tak tahu apakah nantinya akan ada yang bisa menerima segala sisiku. Saatnya memperbaiki diri kemudian berserah. Akan ada saatnya aku benar-benar bisa percaya laki-laki, walau mungkin bukan sekarang. Akan ada saatnya aku bangkit, walau mungkin bukan sekarang. Mungkin kelak aku akan belajar membuka hati saat aku yakin ia tak akan pergi, bisa menerima apa yang telah menjadi masa laluku, mempercayaiku, dan tak lelah membimbingku.

Dan jika kau kebetulan membaca cerita ini, aku harap kau akan terus mendampinginya dan percaya padanya.