Category Archives: cerita saya

Menulis di Pasar (edisi menulis puisi bersama Aan Mansyur)

Standar

Hari minggu lalu, aku mencoba untuk ikut kelas menulis di pasar yang diadakan post santa. Sebuah kelas dadakan yang dibuat karena kebetulan Aan Mansyur sedang berada di Jakarta dan mampir di post. Dan aku tertarik karena 3 minggu sebelumnya aku membeli salah satu bukunya. Ya, memang pengalaman menulisku, terutama puisi, sangat amat cetek karena itu aku mengikuti kelas ini. Dan karena saat itu aku tak membawa catatan, dan agak rikuh untuk mencatat sambil mendengarkan, mari kita gali gali apa yang tertangkap. Kata-katanya tak akan sama persis, tapi aku akan mencoba menyampaikan maksudnya.

Kelas dimulai dengan perkenalan. Seperti biasa, perkenalan dimulai dengan menyebut nama kemudian kami diminta untuk menyampaikan apa yang suka kami tulis. Dan komentar mas Aan, “Mengapa harus menyebutkan nama terlebih dahulu, seolah itu hal yang paling penting. Padahal malah itu yang paling mudah untuk dilupakan.” Dan benar saja, aku membuktikannya saat diminta untuk menyebutkan apa yang aku ingat dari salah satu peserta. Aku ingat bahwa dia kuliah jurusan sastra, menulis tugas, suka membaca fiksi untuk menambah perbendaharaan kata, melatih imajinasi serta untuk membuat tulisannya lebih enak dibaca. Namanya? Aku tak ingat. “Menulis puisi adalah membunuh hal hal klise semacam itu. Sebenarnya penulis adalah pembunuh.” Dan kemudian ilmu bergulir.

“Bahasa adalah kekuatan utama penulis. Tetapi kau harus berhenti untuk melihat kata sebagai jembatan yang kau gunakan untuk menyampaikan makna. Kau harus melihatnya sebagai semesta. Misal saja namun, tapi dan tetapi. Artinya sama. Tapi coba kau dengar. “Namun tetap mencintaimu”,”Tapi tetap mencintaimu”, “Tetapi tetap mencintaimu.” Kau akan merasa bahwa yang pertama terdengar sumbang. Sedangkan yang kedua terasa putus. Yang ketiga baru pas. Rasanya seperti bermain perkusi dengan kata kata. Kalau kau melihat kata kata hanya sebagai jembatan, hanya akan ada dua kemungkinan yang kau capai. Yaitu terlalu terang atau terlalu gelap.”

“Menulis puisi adalah bagaimana kau membunyikan dan menyembunyikan sesuatu secara sekaligus. Walaupun kata-katanya sederhana, kau harus menaruh layer di dalamnya. Agar semua orang yang memiliki karakter, mood, latar belakang pendidikan, dan segala hal yang berbeda dapat sama sama menemukan sesuatu disana. Orang yang baru patah hati ataupun sedang jatuh cinta, mereka harus sama sama menemukan sesuatu. Lapisan itu yang membuat puisimu kaya, sehingga saat seseorang membacanya lagi, dia dapat menemukan hal baru. Misal sebuah puisi yang saat pertama kau baca kau akan melihatnya sebagai puisi cinta. Kemudian kau membaca berita politik, kau akan merasa bahwa puisi tersebut membicarakan politik. Kemudian kau belajar sosiologi, kau menemukan bahwa puisi tersebut membicarakan sosiologi. Puisi tersebut tidak berkembang, tapi ilmu baru membuatmu baru melihat layer itu.”

“Waktu adalah editor terbaik yang pernah kutemui. Waktu dapat memilah bagian mana dari sebuah peristiwa yang layak ditampilkan dalam sebuah puisi. Waktu pula yang memberitahumu apa yang memicu sebuah kenangan muncul kembali. Misalkan pertemuan ini. Aku akan mengingat segala detail pertemuan ini jika aku melihat bunga ini.” Kemudian ia mengambil bunga yang ada di meja. “Mungkin aku tak tahu namanya, tetapi jika aku melihatnya, aku akan ingat. Seperti itu ingatan bekerja. Tak ada manusia yang benar benar melupakan sesuatu. Dia hanya tak memiliki kemampuan untuk memanggilnya kembali.”

“Dan kalau kau berpikir menulis itu mudah, kau salah. Kau harus menumbuhkan kepekaan. Kau harus melakukan riset walaupun rasanya terdengar salah untuk menggabungkan riset dengan menulis puisi. Tapi misal saja bunga ini. Kau harus bisa menggambarkannya dengan baik agar pembaca menangkap maksudnya. Kau memang tahu bunga ini berwarna kuning. Tapi jangan jangan akan dianggap bunga lain karena ada banyak bunga berwarna kuning. Kau harus tau namanya, aromanya, tumbuh di bulan apa, dan lain sebagainya.”

“Menulis itu pekerjaan penulis. Riset itu pekerjaan penulis. Tidur itu pekerjaan penulis. Bahkan berjalan juga pekerjaan penulis. Kau harus mau berjalan untuk dapat menangkap lebih banyak hal. Contoh jika kau naik mobil, kemudian kau melihat temanmu di jalan. Kau hanya akan tahu bahwa kau melihatnya. Misal kau menggunakan motor, kau akan tahu baju yang ia kenakan yang mungkin saja sama dengan yang ia kenakan 2 minggu yang lalu. Jika kau naik sepeda, kau akan melihat sepatu apa yang dikenakan, atau bersama siapa dia berjalan. Sedang kalau kau berjalan, kau akan bisa menyapanya dan bahkan mencium parfumnya. Semakin cepat kendaraan yang kau gunakan, semakin sedikit yang kau lihat.”

“Dulu aku merasa penulis yang miskin itu romantis seperti di film film. Tapi itu salah. Penulis menjadi miskin karena lebih banyak uang yang ia keluarkan untuk membeli buku dibanding hasil penjualan bukunya. Penulis harus banyak membaca. Penulis pertama menyediakan bahan untuk penulis kedua. Tidak ada yang salah dengan terpengaruh orang besar. Malah seharusnya kau bangga. Dan kau akan menjadi semakin baik setelah banyak menulis ulang. Bahkan Ernest Hemingway membuat 10 versi dari satu cerita untuk dipilih dan kemudian menulis ulang cerita tersebut.”

“Dan puisi tak melulu tentang isi. Puisi adalah bagaimana mengemas isi dan isi membuat kemasannya menarik. Konsep dan bentuk memang harus ikut dipikirkan. Dan tak perlu pusing memikirkan gaya. Menulislah sebanyak-banyaknya hingga gaya menemukanmu.”

Hanya orang yang tak dapat berdamai dengan kesunyiannya yang akan selalu mengejar sesuatu yang sebenarnya semu

Makan Enak di Gunung

Standar

Kata siapa naik gunung melulu makan mi instan, sarden, kornet, atau mentok mentok nasi sayur sop? Kali ini aku pengen cerita piknik asik ku di Gunung Papandayan dengan menu kuliner yang sedikit beda dari biasanya.

 

Naik gunung kali ini bisa dibilang aku super niat buat makanannya. Dari ke supermarket sampe pagi pagi mampir ke budhe belanjaan buat beli ini itu, yang kemudian bingung sendiri packing nya karena cuma punya carier ukuran 30 liter sedangkan aku kebiasa bawa banyak barang printilan jadi selalu penuh.

Nah, karena emang mau cerita tentang kulinernya, kita langsung skip ke bagian masak-masak ya. O iya, kebetulan kita ketemu anak smp sama sma waktu di busway dan akhirnya gabung kelompok sama mereka (kita 4 orang, mereka 3 orang), jadi kita sempet sharing makanan juga.

 

Kita sampe di daerah pondok saladah sekitar jam setengah 11. Selesai buka tenda, pasti langsung buka kompor dong. Dan yang pertama kali kita bikin adalah coklat papa bear buat anget anget perut. Karena masih kepagian buat makan siang dan kita masih agak kenyang karena udah sarapan di warung bawah, kita akhirnya bikin sandwich. Ada dua macam sandwich yang kita bikin yaitu sandwich kornet keju, sama sandwich pisang coklat keju. Untuk sandwich kornet keju aku cuma tumis kornet sachet (nasting nya dilapis akumunium foil biar gampang bersihinnya) terus ditabur keju parut (iya, aku bawa bawa parutan ke gunung. alumunium foil gulungan juga). Sedangkan satunya ya cuma potong potong pisang yang kebetulan malamnya beli di pasar malam, tabur meses, sama parutan keju. Sedangkan adek adek itu masak mi instan sama kopi instan.

Habis leyeh leyeh, main kartu, ngobrol ngobrol, dan beberapa dari kita tidur siang, aku sama rifwan ke mushola di pondok saladah. Niatnya sih habis itu mau ke tegal alun sekitar jam 2. Eh ternyata waktu kita balik itu adek adek lagi masak. Ya udahlah, kita bantuin dulu dan niat buat naik di pending setelah makan siang. Menu makan siang kali ini nasisayur sop (yang isiannya wortel, kentang, buncis, kol, bakso. Aku cuma urun buncis sama wortel disini), tempe goreng (ini aku yang bawa karena tempe mereka ternyata busuk), sama nugget dan sosis goreng. Dan ya walaupun mereka yang mulai masak, pada akhirnya nasi jadi tanggung jawab rifwan dan sayur sop plus tempe jadi tanggung jawabku (karena adeknya bahkan nggak paham prinsip masak sayur sop harus sayur keras dulu yang dimasukin sedangkan daun bawang terakhir. Dan mereka ngabur buat sholat). Udah berasa master chef deh ngadepin dua kompor nyala sekaligus.

Turun dari tegal alun kondisi udah mulai gelap, dan kita basah kehujanan. Jadi hal berikutnya setelah kita ganti baju, beresin tenda plus fly sheet biar nggak bocor, pasti langsung gelar kompor lagi. Dan ya karena hujan juga, kita awali sama yang anget anget. Lagi lagi kita seduh coklat papa bear. Lanjut si yoga ngeracik menu rahasia yaitu jahe, kencur, jeruk nipis. Minuman ini enak. Anget seger gimana gitu. Lanjut lagi bikin teh tubruk. Nggak tau kenapa aku sama anak-anak cukup nagih sama teh ini. Sedangkan si adek bikin kopi instan lagi. Dan ya kita tuker tukeran minuman.

Udah mulai laper, saatnya makan. Sayang adek adek dah pada capek jadi nggak ngerasain masakan kita. Padahal kita masak pizza. Kebetulan waktu ke supermarket aku nemu pizza dough isi 3 yang kebetulan juga ukurannya pas sama teflonnya yoga. Berhubung memang nggak mungkin di oven, jadi kita panasin aja di atas teflon yang sebelumnya dikasih margarin. Untuk toppingnya, kita tumis bawang bombay, sosis, sama smoke beef. Jadi setelah manasin satu sisi pizza, sisi satunya kita oles saus tomat, masukin tumisan topping, tabur keju quick melt, tutup, and let the magic begin. Di masakan terakhir, kita tambah telur di tumisan toppingnya jadi agak beda sama yang sebelumnya. Jangan bayangin pizza nya kaya pizzah*t ya. Pizza ini tekstur roti nya renyah mirip crackers. Kalo yang pernah makan pizza di vien’s resto semarang, nah ini sama. Enak deh pokoknya. Dan ini adalah makanan penutup hari karena setelah itu kita beres beres, main kartu, berantem masalah siapa yang tidur di luar (karena ada kejadian frame ketinggalan jadi cuma ada 1 tenda 2p yang berdiri sedangkan kita berempat dengan kondisi 2 orang badannya gede), dan akhirnya tidur dengan nyenyak.

c3fd01ed-c54c-41a3-bdf9-384e1932ef26

401ab389-1f7a-4b42-8c6f-9eb80350f63c

Pagi hari kita agak males-malesan karena suasana emang mendukung buat terus-terusan tidur. Kabut pekat, cuaca dingin, bener-bener bikin males bangun deh. Akhirnya beneran bangun karena adek-adek bangun, yoga nggak enak di tenda mereka dan balik ke tenda kita. Karena udah jadi berempat lagi, kita udah nggak mungkin tiduran (walaupun betet tetep aja masih tiduran). Dan saatnya sarapan! Kali ini aku wanti wanti adek-adek buat nggak masak karena bahan kita masih buanyak, takut nggak kemakan. Ya walaupun si adek tetep masak mi instan sama kopi sih.

Kita langsung gelar dua kompor. Di teras belakang rifwan bikin minum sedangkan di teras depan aku sama yoga sibuk bikin pancake. Betet? Jadi pembantu umum yang kita teriakin “Tet, ambilin telur. Tet, ambilin keju. Tet, cariin gula”. Selesai bikin minuman, betet sama rifwan aku pasrahin buat masak makaroni. Berhubung makaroni udah hampir mateng, aku beralih ke nyiapin bumbu buat makaroni. Motong bawang putih, bawang bombay, sosis, smoke beef sedangkan betet gantian bantu yoga nyelesaiin pancake. Makaroni mateng, rifwan gemes liat kentang nganggur dan punya inisiatif bikin mashed potatoes sedangkan aku ngolah makaroni. numis bumbu yang udah disiapin, tambahin telur, masukin ke makaroni yang udah mateng, tambah saos gula garem, parut keju, dan jadi deh. Pancake juga udah mateng tinggal kasih maple syrup sama meses. Mashed potatoes nya akhirnya dibumbuin pake bumbu kentang goreng. Dan dapet sumbangan nugget, sosis, sama bakso goreng dari adek adek. What a perfect breakfast

056110bf-bd44-4979-b597-282d8e53986e

243828e0-8679-4d46-b35a-1644adb5a7e5

 

PS : kalo mau masak niat kaya gini tetep sesuaiin sama kondisi gunungnya ya. Aku berani niat karena papandayan termasuk gunung santai jadi walaupun logistik banyak masih nggak terlalu jadi beban. Air juga melimpah walaupun masakan kita nggak makan banyak air sih sebenernya. Tapi bisa jadi bukti kan kalo masih tetep bisa party.

O iya, perhatiin sampah yang dihasilkan ya, jangan dibuang sembarangan walaupun cuma potongan pembungkus makanan. Jangan nyuci pake sabun juga waktu di atas karena bahan kimia nya ngerusak tanah. Sedia aja jeruk nipis biar nggak amis. Bawa kanebo bisa menghemat banyak tisu untuk lap lap nya. Bawa alumunium foil ngebantu kalo masak yang rawan nempel di nasting jadi nyuci nya gampang.

Untuk packing sih aku bawa tempat makan jadi bahan makanan bisa masuk sekaligus buat piring/mangkok pas makan. Kalo kebetulan kamu juga yang bawa nasting, bisa tuh dimasukin nasting. Hati hati kalo bawa telur walaupun sekarang udah ada tempat khususnya, tapi tetep bungkus lagi pakai kertas. Bahan yang di kardus dibongkar buat hemat tempat. Cari kemasan se kecil mungkin biar bisa diseselin. Dan untung lagi carier ku ada front load nya jadi nggak perlu bongkar semua dan beresinnya lagi juga gampang.

Yah, DU aways be DU. And I enjoy it very much.

Trip to Gunung Gede

Standar

Selamat pagi kawan. Bagaimana long weekend kemaren? Seru? Aku juga dong. Hihihi.

Tanggal 3-5 April kemaren memang long weekend, dan sesuai kesepakatan beberapa minggu yang lalu, aku dan temen-temen mau naik ke Gunung Gede. Sempet galau sih antara Gede, Pangrango, atau Prau. Tapi setelah dipertimbangkan masalah jarak dan rute, akhirnya kita pergi ke Gunung Gede.

Naik Gunung Gede dan Pangrango itu nggak sesimpel gunung lain yang tinggal dateng, laporan di beskem, langsung jalan. Kalau disini harus daftar dari jauh-jauh hari via website, terus ngurus simaksi dan lain-lainnya. Dan karena ini long weekend, kuota buat hari Jumat nya udah penuh. Alhasil kita harus puas naik di hari Sabtu-Minggu dengan resiko pulang naik langsung berangkat kerja

Skip skip. Kita sepakat buat kumpul di terminal Kampung Rambutan selepas isya, sekitar jam 7. Tapi berhubung satu dan hal lainnya, kita baru bisa kumpul jam 10 dan berangkat jam 11. Ada banyak bis yang bisa kita naikin, yang penting arahnya ke Cianjur atau Bandung. Kalo mau lewat jalur Cibodas, kita turun di Cibodas. Kalo mau lewat jalur Gunung Putri, kita turun di Cipanas. Tarif bis ini sekitar 25.000. Nanti disana ada banyak angkot yang siap disewa buat naik ke pos pendakian. Masalah harga sih tergantung nego, biasanya kisaran 10.000.

Setelah diskusi dan denger pendapat sana sini, kita memutuskan untuk naik lewat Gunung Putri dan turunnya baru lewat Cibodas. Jadilah kita turun di Cipanas kemudian ngangkot sama rombongan nya bang Rahmat, temen yang minjemin kita tenda. Berhubung jalannya memang nggak baik dan muatan yang berat, angkot kita nggak kuat buat sampe di pos pendakian dan harus puas di tiga perempat jalan, yang kemudian dilanjut jalan kaki.

Peta Pendakian Gunung Gede

Peta Pendakian Gunung Gede

Jam menunjukkan pukul 1 pagi, dan kita isi tenaga dulu. Banyak rumah yang berubah jadi warung nasi dan punya kamar untuk disewain ke pendaki yang mau istirahat. Kita mah cukup ngemper di depan rumah orang nunggu subuh baru naik. Jam 5 pagi kita naik ke pos simaksi buat lapor. Sempet agak ribet karena Kang Nunu, orang yang kita hubungi untuk masalah simaksi ini, nggak bisa ditelfon, tapi nggak lama beres juga dan kita diperbolehkan lewat setelah diingetin masalah peraturan. O iya, disini dilarang bawa alat-alat kebersihan yang mengandung detergen yang menghasilkan busa dan ngerusak lingkungan. Kalau pisau sih boleh, sebenernya harus malah.

Jalur Gunung Putri dibuka dengan kebun-kebun yang tertata baik. Ada bawang, wortel, kubis, dan segala sayuran segar lainnya. Track nya masih santai karena memang masih perkebunan. Tapi kemudian mulai menanjak tak ada habisnya. Jalurnya di dominasi oleh hutan dengan pijakan tanah. Jalur ini juga relatif lebih dekat dibanding jalur Cibodas, yaitu 8,5 km ke puncak sedangkan Cibodas 10,5 km ke puncak. Hanya saja memang pemandangannya cukup membosankan dan kalau hujan langsung berubah menjadi genangan lumpur, super licin, dan kalau deras bisa menjadi miniatur sungai karena air mengalir di jalur pendakian. Harus siap cukup banyak air juga karena sumber air hanya ada di alun-alun suryakencana.

Berhubung kita memang super duper nyantai, kita banyak berhenti dan setiap berhenti sering lama. Beberapa kali kita buka bekal dan masak, tidur, dan sempat sekali buka flysheet karena hujan cukup deras. Efeknya, kita menempuh total waktu 12 jam sampai di suryakencana 😀

O iya, waktu itu banyak banget pendaki, ada beberapa penmas juga jadi super duper rame. Tapi akhirnya kita dapet spot gelar tenda yang enak dan nggak terlalu jauh. setelah tenda berdiri dengan selamat, kita para cewek cewek langsung bersih-bersih dan ganti baju sedangkan yang cowok udah siap gelar dapur dan flysheet. Kenyang makan, aku masih sempet ngobrol sebentar sedangkan cewek lain udah melingker di sb masing-masing. Yang pada akhirnya aku juga ikut tepar dan tidur duluan.

Pagi hari, saat nya lihat sunrise. Sebenernya dari sini nggak terlalu kelihatan sih karena timur nya ketutup. Tapi berhubung langit cerah, masih dapet kok semburat merah nya. Selesai menikmati sunrise, foto-foto, bikin video nggak jelas, kita lanjut bikin sarapan. Masakan jadi, waktunya beres-beres dan packing disambi makan yang entah kenapa menurutku super duper lama. Dari ngeluarin isi tenda, ngelipet, masukin barang, rasanya kita semua mendadak lelet. Hahaha.

sarapan ala ala bule. roti gandum bakar, telur orak arik, kornet, keju bakar

sarapan ala ala bule. roti gandum bakar, telur orak arik, kornet, keju bakar

alun alun suryakencana

alun alun suryakencana

Jam 10 kita mulai jalan lagi. Udah jalan kita baru sadar kalo ternyata banyak spot bagus buat foto jadi ya nyandet nyandet deh perjalanannya karena pengen foto sana sini. Sebelum ke puncak, ada sumber air yang bisa kita ambil airnya buat bekal selanjutnya. Perjalanan ke puncak masih tetp didominasi hutan dan tanjakan yang lumayan bikin pegel. Waktu itu sih kita butuh waktu 1-1,5 jam buat sampe puncak. Puncak Gunung Gede termasuk kecil, dan karena rame udah kayak pasar pindah.

DSC_0501

DSC_0514

foto bareng pendaki lain

foto bareng pendaki lain

Read the rest of this entry

Hati-Hati Jalan Rusak Pertigaan Dawuan Cikampek

Standar

Ceritanya kemaren itu habis pulang ke Semarang naik mobil, dan hari minggu, 15 Maret 2015 kita balik lagi ke Jakarta. Berangkat dari Semarang jam setengah 3 sore dengan estimasi jam 1 pagi bisa sampe Bekasi dan jam 2 udah sampe Jakarta jadi masih ada waktu buat tidur sebelum ngantor.

Sebenernya kondisi mobil emang agak-agak nggak fit, tapi harusnya masih kuat buat diajak jalan santai sampe Jakarta. Jalanan lancar, dan semuanya masih berjalan sesuai rencana walau sempet beberapa kali muncul suara suara aneh dari mobil.

Sekitar jam 11 kita udah mulai masuk Cikampek. Karena gerbang Cikopo itu emang selalu macet, bapak emang lebih suka buat masuk atau keluar dari gerbang Dawuan, lewat kawasan pupuk kujang. Nah, sekitar jam setengah 12, kita udah belok di pertigaan Dawuan, dan seneng karena bisa lebih cepet dari rencana. Tapi rencana tinggal rencana. Persis di pertigaan itu ada lubang super besar yang nggak kelihatan karena emang jalannya kegenang air (fyi, sejak dari Semarang hujan nggak berhenti makanya banjir).

pertigaan dawuan

pertigaan dawuan

Kita keperosok lubang dua kali. Pertama bagian kanan, maju dikit gantian yang kiri yang kena. Lubangnya bener-bener dalem, dan nggak ada apapun buat nutup lubang atau petunjuk yang ngasi tau kalo disitu ada lubang. Yang jelas bodi bawah mobil sampe kepentok (padahal mobilnya carnival yang notabene nggak ceper. kalo model sedan mungkin udah nggantung). Begitu lepas dari lubang, muncullah suara aneh dari bagian bawah mobil. Kalo kata kita sih “kemrotog”, bunyi grag grog gitu dari bagian depan kiri.

bukan foto yang sebenernya. yang asli malem dan nggak ada penanda dan lubang nggak kelihatan

bukan foto yang sebenernya. yang asli malem dan nggak ada penanda dan lubang nggak kelihatan, dan ada sekitar 3-4 lubang (lihat depan mobil paling kanan, lubangnya disitu)

Minggir lah kita, tapi belom sampe minggir banget, mobil nya udah nggak mau jalan. Mau masukin gigi pun nggak bisa, dan bunyinya makin kenceng (aku kurang tau istilahnya buat matic apa. Pokoknya dari netral mau maju atau mundur itu). Alhasil, tengah malem, kita cewek-cewek tiga orang sama bapak dorong dorong mobil buat minggir. Setelah berjuang hampir sejam, akhirnya mobil berhasil minggir dengan aman. Mau ngecek nggak kelihatan apa yang rusak. Kata bapak sih kemungkinan gearbox nya lepas (nggak tau deh itu apa).

Bingung dong kita harus gimana. Tengah malem, jalan sepi, nggak ada yang bisa dimintain tolong, musim begal pula. Akhirnya kita semua masuk, ngunci pintu, nutup jendela, buka sunroof biar tetep ada udara (aki lagi agak soak makanya nggak berani nyalain mesin kalo nggak dipake jalan), dan ngandelin google buat cari bantuan.

Pertama sih langsung cari info derek. Tapi nemunya derek jasamarga (secara udah deket tol), tapi kan layanannya nggak bisa dipake kalo bukan di tol. Dapet nomer lagi derek Jakarta. Tapi mau Jasamarga atau Jakarta, dua dua nya ditelfon nggak ngangkat. Kantor polisi terdekat sih cuma 3 km, tapi udah kelewat dan nggak tau gimana kesananya.

Berhubung dulu pernah nelfon 112 dan malah di oper-oper nggak jelas, kita cari nomer polsek cikampek, yang paling deket. E lha kok ya nggak diangkat. Sempet diangkat, tapi nggak ada suaranya. Kan resek, pulsa berkurang tapi nggak dapet bantuan. Cari info nomer polres karawang ya sama aja, nggak diangkat juga. Langsung deh ilfeel lagi sama polisi. Magabut amat. Entah emang nggak ada yang jaga di kantor atau terlalu males dapet laporan makanya telfon nggak diangkat.

Setelah bingung, sekitar jam 2 akhirnya atasan bapak bisa ditelfon dan mau bantu. Karena Pak Ardi itu berangkat dari Jakarta, yang artinya paling cepet sejam baru sampe, kita tidur dulu. O iya, selama kita tidur, ternyata ada mobil yang kena lubang lagi, bemper nya sampe lepas dan terbang gara-gara keperosok. Parah lah.

Bantuan datang, dan akhirnya mobil digeret sampe kantor polisi klari buat dititipin. Sedangkan kita lanjut jalan naik mobil pak Ardi. Mungkin hari ini mobil diambil, dicek, dan dibenerin.

Pesan : Hati-hati kalo mau lewat pertigaan Dawuan. Bener bener bahaya. Padahal di belokan, yang artinya kecepatan kendaraan cenderung rendah aja efeknya fatal. Gimana kalo kenceng? Bisa jadi kecelakaan deh itu. Dan buat polisi, apa iya layanannya nggak 24 jam? Itu ngapain punya nomer telfon kalo nggak bisa dihubungi begitu? Yang jelas kami jadi ilfeel sama petugas, dan tayangan 86 di NET itu mungkin hanya sekedar pencitraan tapi nggak nyata *cih

Copyright

Standar

Copyright alias hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas. (kata wikipedia)

Hak cipta ini biasanya dihubungin ke pembajakan, dan biasanya ngebahas tentang musik atau film. Tapi kali ini aku nggak mau bahas tentang dua hal itu, yang sebenernya aku berusaha hindari tapi kadang-kadang tetep aja beli kaset bajakan atau download dari internet. Kali ini aku mau ngomongin hak cipta di bidang craft.

Di dunia craft, masalah hak cipta ini lebih rumit daripada apa yang kita lihat karena orang dengan mudah ngelihat suatu barang dan menduplikasi ide bahkan barangnya. Nggak jauh beda sama tren model baju yang lagi populer trus semua penjahit ngikutin dan dijual. Tapi untuk barang-barang handmade, ditiru plek ketiplek itu bikin sakit hati juga sih.

Kalo untuk yang jahit menjahit biasanya jarang sih yang ada copyright nya, ya karena masalah itu tadi, semua orang dengan mudah niru dan modifikasi. Untuk masalah rajut, beberapa ada copyright nya, dan ini yang aku berusaha untuk pahami.

Di internet ada banyak tersedia free pattern yang bisa kita pake. Tapi coba deh perhatiin credit pembuat pola. Yang jelas mereka biasanya nyebutin kalo pola itu gratis dan jangan dijual, jangan juga di klaim sebagai pola kita sendiri. Kalo mau nyebarin pola nya ya di link ke blog atau web mereka, jangan di copy paste ke blog kita. Untuk masalah apakah kita boleh jual boneka hasilnya, itu beda-beda. Coba kita lihat gambar di bawah

taken from jennyandteddy.com

taken from jennyandteddy.com

taken from allaboutami.com

taken from allaboutami.com

Di gambar pertama, pembuat pola dengan jelas bilang kalau kita boleh jual boneka yang kita buat dengan pola dia, dan dia nggak ngasih syarat apa-apa. di gambar kedua, disebutin kalau kita boleh make untuk keperluan pribadi (artinya boleh juga kita bikin buat kado ke orang lain), tapi kita nggak boleh jual atau distribusi pola maupun boneka hasilnya.

Emang sih, banyak yang bilang, “Mereka kan jauh, nggak akan tahu kamu jual boneka dari pola mereka. Apalagi kalo udah dimodifikasi.” Tapi entahlah, rasanya jahat aja kalo udah jelas-jelas nggak dibolehin tapi aku masih ngelakuin hal itu.

Tapi gimana dong nasib orang-orang macem saya yang mau cari duit dari sini tapi nggak bisa bikin desain sendiri dan terlalu bokek buat beli pola berbayar (boleh nyalahin kurs nggak)? Sebenernya gampang kok, cari aja pola yang emang udah ngejelasin kalo kita boleh jual boneka nya. Kalo dia nggak ngejelasin, sedangkan kamu suka dan banyak yang suka, gampangnya, kontak aja mereka. Entah via comment box, ataupun via email.

Aku udah tiga kali minta ijin ini, ke pola pola yang kemungkinan sering aku pakai atau memang desainernya bikin banyak pola lucu. Dan biasanya mereka ngijinin kita buat jual kok, asal kita kasih credit yang menyatakan kalau mereka lah desainer boneka nya, kita cuma bikin aja

ijin dari Beth, byhookbyhand.blogspot.com

ijin dari Beth, byhookbyhand.blogspot.com

ijin dari angela, amiguru.tumblr.com

ijin dari angela, amiguru.tumblr.com

ijin dari sylvia, studio-ami.tumblr.com

ijin dari sylvia, studio-ami.tumblr.com

Semudah itu kok kita minta ijin dan nggak ngelanggar hak cipta. Bahkan rata-rata mereka seneng karena kita udah minta ijin.

Happy crocheting 🙂

PS : Alamat-alamat yang aku sebut di atas punya banyak pola gratis yang oke punya. Tapi inget, minta ijin dulu ya kalo mau jual boneka dari pola mereka 🙂

Main-Main ke Taman Ismail Marzuki

Standar

Sebenernya ini latepost sih, tapi nggak papa lah ya, yang penting berbagi. Ahahaha

Buatku, Taman Ismail Marzuki merupakan salah satu tempat favorit buat main. Berhubung aku orangnya emang nggak bisa anteng, jadi tiap weekend pasti cari cari acara. Pertama sih biasanya tanya mbah google lagi ada event apa di Jakarta di hari itu. Kalo nggak ada yang menarik, buka web nya Taman Ismail Marzuki, cari lagi ada kegiatan apa disana. Kalo nggak ada juga ya antara mbolang atau jaga kontrakan.

Sejak merantau, aku udah beberapa kali ke Taman Ismail Marzuki. Emang nggak terlalu sering sih, tapi seru.

Yang pertama, waktu lagi jalan-jalan nggak jelas sama Mamet sama Syafiiq. Awalnya sih aku minta temenin nyari tau dimana gedung PPM, dan waktu liat liat sekitar, kita liat papan penunjuk ke TIM. Jadi ya sudah, jalan lah kita kesana. Tapi sayangnya waktu kita kesana planetarium tutup dan nggak ada event. Jadi cuma muter muter aja disana.

Kedua, kita nonton teater disana. Kebetulan waktu itu temen lagi main dari Semarang, dan tante nya adalah salah satu orang Kayan, penyelenggara rutin teater di TIM. Ya walaupun sebenernya kita nggak dapet tiket, berkat tantenya Cindy, kita tetep bisa masuk dan nonton sambil selonjoran di tangga. Kali itu judulnya Roman Made in Bali. Pertunjukan ini menceritakan tentang dua orang pria. Roman (diperankan Cak Lontong), pra warga negara Kanada dan Made (diperankan oleh Balawan), pria asli Bali. Mereka berdua memperebutkan satu wanita Bali yang canti, Sita (diperankan oleh Ayushita).

Teater ini disutradarai oleh Butet Kertaradjasa. Bukan sekedar teater, tapi disini juga ada humor yang didominasi dari Cak Lontong, Akbar, Marwoto. Beberapa kali Balawan juga tampil diiringi band nya. Ada dua penyanyi yang mengiringi monolog dari Ayushita. Dan ada pesan tentang penolakan reklamasi Bali disana.

Dicintai satu lelaki adalah anugerah. Dicintai dua lelaki sekaligus adalah musibah.

Roman Made in Bali

Roman Made in Bali

Untitled

Untitled

Kali ketiga, kebetulan ada event dari Pekan Komponis Indonesia tentang keroncong. Sebenernya ada rangkaian acaranya, tapi berhubung pada punya kesibukan beda beda, akhirnya kita dengerin salah satu konsernya aja. Namanya janjian sama banyak orang, dan datengnya nggak dalam waktu yang sama, kita masuk waktu pertunjukan udah mulai.

Ada 4 performer malam itu, membawakan keroncong dengan style masing masing. Dari keroncong klasik, hingga keroncong pesisir, semuanya memukau. Rasanya kembali ke masa kecil, waktu itu Papa (sebenernya sih om, tapi aku panggil papa) dan saudaranya Mama sering main keroncong dan latihan di rumah. Beberapa lagu yang dibawakan pun aku sering denger waktu jaman kecil. Dari lagu Bengawan Solo, hingga Caping Gunung. Tak ketinggalan Keroncong Kemayoran, Gambang Semarang, juga Aksi Kucing. Memang beberapa aku baru pertama kali denger, tapi semuanya menghipnotis.

Untitled

Dan minggu kemaren, kita ke TIM lagi. Kali ini buat nonton film gratis sebagai bagian dari rangkaian acara Pameran Aku Diponegoro. Film ini diputar oleh Kineforum, dan ada dua film yang rencananya diputar, Pahlawan Goa Selarong dan November 1828. Keduanya masih berhubungan dengan Pangeran Diponegoro.

Setelah muter-muter dan bingung dimana letak kineforum, sampe sana ternyata masih belom bisa daftar. Alhasil kita liat pameran fotografi dan pasar barang mantan dari Kelas Pagi dulu di Galeri Cipta III. Setelah itu kita balik buat daftar dan nunggu sampe film dimulai. Tiba-tiba, film nya lagi ada masalah, jadi kita ditawarin buat nonton film satu nya, November 1828.

Film ini memamerkan tradisi masyarakat Jawa yang sangat liat untuk ditindas. Di tengah suasana perang Diponegoro, Kapitein De Borst (Slamet Rahardjo), indo yang sangat ingin jadi Belanda murni, hendak membuktikan diri sebagai prajurit hebat. Pembuktian itu bisa diperoleh bila dia berhasil menangkap Sentot Prawirodirdjo, otak peperangan Diponegoro. Kisahnya berlangsung di desa Sambiroto November 1828. Untuk maksud ini, De Borst menggunakan segala cara dan tak memperdulikan nyawa orang. Di pihak lain pengikut Sentot menyusun perlawanan dengan sangat licin, hingga bisa memasuki seluruh lapisan pertahanan Belanda dan selalu tahu rencana-rencana Belanda. Puncak ketegangan adalah konflik antara De Borst dengan Kromoludiro (Maruli Sitompul). Untuk mengetahui persembunyian Sentot, De Borst memaksa Kromoludiro buka mulut, antara lain dengan menyandera istri dan anaknya yang masih bayi. (diambil dari indonesianfilmcenter.com)

Untitled

Saatnya nongkrong sambil mengapresiasi seni anak bangsa, bukan sekedar nongkrong di mall atau cafe mahal 🙂

Rajut Rajut

Standar

Udah lama nggak nulis tentang rajutan. Biasa nya lebih suka post di instagram soalnya. Hehehe.

Masih berkutat sama pesenan yang nggak kelar kelar dan mood nya datang dan pergi seenak udel. Di sela sela itu, aku suka cari beberapa pengalihan soalnya lama lama bosen juga bikin amigurumi yang kebanyakan pola nya bunder bunder dan banyak part yang harus disambung itu *lap keringet.

Biasanya sih pengalihannya nonton tv, baca buku (benedict society nya belom kelar juga), dan ngerajut yang lain. Hihihi.

Kemaren itu tiba tiba kepikiran buat bikin rajutan yang bunga bunga gitu. Sebenernya edisi kangen main gardening mama sih, jadi ngerajut beberapa bunga yang ada di game itu. Ini dia yang udah jadi (sekaligus aku kasih link pola nya ya)

Untitled

1. Bunga Lily. Sebenernya bunga ini belom bener bener selesai. Tapi udah nggak sabar buat post. Hehehe.

2. Bunga matahari. Ini pola agak agak ribet sih, tapi berhubung akhir akhir ini lagi jatuh cinta sama bunga matahari, jadi ya semangat bikinnya.

3. Bunga Mawar. Sebenernya ada banyak pola mawar dan mirip mirip. Tantangannya tu pas nggulung biar kaya mawar beneran.

4. Japanese Quince. Aku nggak tau ini sebenernya bunga apa, dan agak cacat karena aku kurang satu kelopak pas bikinnya. Tapi hasilnya tetep cantik kok.

5. Akua’s daisy. Bunga yang ini cukup simple. Sebenernya ada dua variasi pola, tapi aku cuma bikin satu

6. Sweet Pea. Kali ini ada diagram yang bikin hidup lebih mudah *hasyah

7. Pansy. Pansy ini salah satu jenis anggrek. Kayanya sih yang paling terkenal di luar sono.

8. Morning Glory. Kalo di Indonesia dibilang bunga terompet lah. Nama bule nya tapi keren banget gitu.

Masih banyak yang pengen dibikin. Pengen bikin daffodil, tulip, carnation, cosmo, hyacinth, buanyak lah

Selain bunga bunga an, aku juga bikin yang lain. Agak bingung sih ini masuk kategori apa. Mungkin bisa dianggep doily.

Namanya sih sophie’s garden. Yang jelas, polanya nyenengin dan hasilnya keren. Hahaha

O iya, nantinya, rencananya, mau aku bikin tas. Kalo udah jadi, dan sempet bikin tutorial, aku post deh

Untitled

Itu dia beberapa hasil nyangkut-nyangkutin benang dan efeknya sekarang tanganku agak agak sakit. Mungkin emang disuruh pake jarum rajut yang bagus, yang ada bantalannya kali ya :p