Category Archives: opini dan pemikiran

Menulis di Pasar (edisi menulis puisi bersama Aan Mansyur)

Standar

Hari minggu lalu, aku mencoba untuk ikut kelas menulis di pasar yang diadakan post santa. Sebuah kelas dadakan yang dibuat karena kebetulan Aan Mansyur sedang berada di Jakarta dan mampir di post. Dan aku tertarik karena 3 minggu sebelumnya aku membeli salah satu bukunya. Ya, memang pengalaman menulisku, terutama puisi, sangat amat cetek karena itu aku mengikuti kelas ini. Dan karena saat itu aku tak membawa catatan, dan agak rikuh untuk mencatat sambil mendengarkan, mari kita gali gali apa yang tertangkap. Kata-katanya tak akan sama persis, tapi aku akan mencoba menyampaikan maksudnya.

Kelas dimulai dengan perkenalan. Seperti biasa, perkenalan dimulai dengan menyebut nama kemudian kami diminta untuk menyampaikan apa yang suka kami tulis. Dan komentar mas Aan, “Mengapa harus menyebutkan nama terlebih dahulu, seolah itu hal yang paling penting. Padahal malah itu yang paling mudah untuk dilupakan.” Dan benar saja, aku membuktikannya saat diminta untuk menyebutkan apa yang aku ingat dari salah satu peserta. Aku ingat bahwa dia kuliah jurusan sastra, menulis tugas, suka membaca fiksi untuk menambah perbendaharaan kata, melatih imajinasi serta untuk membuat tulisannya lebih enak dibaca. Namanya? Aku tak ingat. “Menulis puisi adalah membunuh hal hal klise semacam itu. Sebenarnya penulis adalah pembunuh.” Dan kemudian ilmu bergulir.

“Bahasa adalah kekuatan utama penulis. Tetapi kau harus berhenti untuk melihat kata sebagai jembatan yang kau gunakan untuk menyampaikan makna. Kau harus melihatnya sebagai semesta. Misal saja namun, tapi dan tetapi. Artinya sama. Tapi coba kau dengar. “Namun tetap mencintaimu”,”Tapi tetap mencintaimu”, “Tetapi tetap mencintaimu.” Kau akan merasa bahwa yang pertama terdengar sumbang. Sedangkan yang kedua terasa putus. Yang ketiga baru pas. Rasanya seperti bermain perkusi dengan kata kata. Kalau kau melihat kata kata hanya sebagai jembatan, hanya akan ada dua kemungkinan yang kau capai. Yaitu terlalu terang atau terlalu gelap.”

“Menulis puisi adalah bagaimana kau membunyikan dan menyembunyikan sesuatu secara sekaligus. Walaupun kata-katanya sederhana, kau harus menaruh layer di dalamnya. Agar semua orang yang memiliki karakter, mood, latar belakang pendidikan, dan segala hal yang berbeda dapat sama sama menemukan sesuatu disana. Orang yang baru patah hati ataupun sedang jatuh cinta, mereka harus sama sama menemukan sesuatu. Lapisan itu yang membuat puisimu kaya, sehingga saat seseorang membacanya lagi, dia dapat menemukan hal baru. Misal sebuah puisi yang saat pertama kau baca kau akan melihatnya sebagai puisi cinta. Kemudian kau membaca berita politik, kau akan merasa bahwa puisi tersebut membicarakan politik. Kemudian kau belajar sosiologi, kau menemukan bahwa puisi tersebut membicarakan sosiologi. Puisi tersebut tidak berkembang, tapi ilmu baru membuatmu baru melihat layer itu.”

“Waktu adalah editor terbaik yang pernah kutemui. Waktu dapat memilah bagian mana dari sebuah peristiwa yang layak ditampilkan dalam sebuah puisi. Waktu pula yang memberitahumu apa yang memicu sebuah kenangan muncul kembali. Misalkan pertemuan ini. Aku akan mengingat segala detail pertemuan ini jika aku melihat bunga ini.” Kemudian ia mengambil bunga yang ada di meja. “Mungkin aku tak tahu namanya, tetapi jika aku melihatnya, aku akan ingat. Seperti itu ingatan bekerja. Tak ada manusia yang benar benar melupakan sesuatu. Dia hanya tak memiliki kemampuan untuk memanggilnya kembali.”

“Dan kalau kau berpikir menulis itu mudah, kau salah. Kau harus menumbuhkan kepekaan. Kau harus melakukan riset walaupun rasanya terdengar salah untuk menggabungkan riset dengan menulis puisi. Tapi misal saja bunga ini. Kau harus bisa menggambarkannya dengan baik agar pembaca menangkap maksudnya. Kau memang tahu bunga ini berwarna kuning. Tapi jangan jangan akan dianggap bunga lain karena ada banyak bunga berwarna kuning. Kau harus tau namanya, aromanya, tumbuh di bulan apa, dan lain sebagainya.”

“Menulis itu pekerjaan penulis. Riset itu pekerjaan penulis. Tidur itu pekerjaan penulis. Bahkan berjalan juga pekerjaan penulis. Kau harus mau berjalan untuk dapat menangkap lebih banyak hal. Contoh jika kau naik mobil, kemudian kau melihat temanmu di jalan. Kau hanya akan tahu bahwa kau melihatnya. Misal kau menggunakan motor, kau akan tahu baju yang ia kenakan yang mungkin saja sama dengan yang ia kenakan 2 minggu yang lalu. Jika kau naik sepeda, kau akan melihat sepatu apa yang dikenakan, atau bersama siapa dia berjalan. Sedang kalau kau berjalan, kau akan bisa menyapanya dan bahkan mencium parfumnya. Semakin cepat kendaraan yang kau gunakan, semakin sedikit yang kau lihat.”

“Dulu aku merasa penulis yang miskin itu romantis seperti di film film. Tapi itu salah. Penulis menjadi miskin karena lebih banyak uang yang ia keluarkan untuk membeli buku dibanding hasil penjualan bukunya. Penulis harus banyak membaca. Penulis pertama menyediakan bahan untuk penulis kedua. Tidak ada yang salah dengan terpengaruh orang besar. Malah seharusnya kau bangga. Dan kau akan menjadi semakin baik setelah banyak menulis ulang. Bahkan Ernest Hemingway membuat 10 versi dari satu cerita untuk dipilih dan kemudian menulis ulang cerita tersebut.”

“Dan puisi tak melulu tentang isi. Puisi adalah bagaimana mengemas isi dan isi membuat kemasannya menarik. Konsep dan bentuk memang harus ikut dipikirkan. Dan tak perlu pusing memikirkan gaya. Menulislah sebanyak-banyaknya hingga gaya menemukanmu.”

Hanya orang yang tak dapat berdamai dengan kesunyiannya yang akan selalu mengejar sesuatu yang sebenarnya semu

Jodoh

Standar

Ya, jodoh emang unik, dan misterius. Tak peduli seberapa besar kita menginginkannya, dan mengejarnya, kalau Allah tak menuliskan kalau kita berjodoh, ya tak akan bisa. Tapi kalau memang dituliskan, pasti akan ada saatnya untuk dipertemukan, dan semesta mendukung. Dan jodoh adalah tentang seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya, dan menunggu dengan sabar untuk digantikan yang lebih baik.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba banyak grup whatsapp dan line yang rame, dan muncul foto undangan pernikahan teman disana. Bisa dibilang perfect couple, tapi cukup kaget karena terasa mendadak dan kami belum pernah mendengar kalau mereka dekat. Sempat ragu, ini berita benar atau hanya desas desus, walaupun tak mungkin ada yang se iseng itu sampai bikin undangan nikah kalaupun kabar ini bohong. Dan yang bikin ragu karena foto ini tersebar bukan dari mempelai, dan mempelai belum muncul untuk berkomentar di grup tersebut. Dan entah kenapa, akses untuk mengkonfirmasi berita tersebut juga sulit. Pihak pria sulit dihubungi. Sedangkan yang wanita aku tak terlalu akrab, bahkan tak punya nomor nya.

Sampai tiba-tiba kemarin siang sang laki-laki muncul, mengkonfirmasi kebenarannya, dan berkata bahwa sebenarnya masih ingin menunda menyebar undangan. Dan malamnya, mas yang satu ini menghubungiku via chat, dengan id yang berbeda dari yang aku simpan. Kami memang kenal, beberapa kali ngobrol, walau tak terlampau dekat. Mas ini mempertanyakan seberapa luas kabar sudah beredar. Tapi namanya kampus, desas desus dengan cepat menguar, apalagi menyangkut orang-orang penting seperti mereka berdua.

Dari situ aku bertanya tentang proses mereka berdua. Karena aku tak pernah tahu bahwa mereka dekat. Bahkan saat di pernikahan kawan beberapa bulan yang lalu, mereka berdua tak ada interaksi apa pun. Dan ternyata mereka memang ber ta’aruf, saling mengenal tanpa berduaan dan selalu melalui perantara. Cukup mereka, perantara dan keluarga yang tahu bahwa mereka memiliki rencana indah untuk nantinya menikah.

Dia bilang, mungkin kita tak tahu apakah proses ini memang benar. Tapi setidaknya mereka menghindar dari apa yang dilarang. Meminta petunjuk, dan berkenalan pribadi melalui surat yang disampaikan perantara. Tak ada komunikasi lain secara langsung sampai persiapan pernikahan. Apalagi mengumbar kemesraan di depan umum. Dan aku, benar-benar terpukau dengan ceritanya.

Aku memang masih dalam posisi bimbang tentang masalah hati. Dan aku masih dalam proses berprasangka baik terhadap Allah, bahwa mungkin aku memang sedang dijauhkan dari orang yang salah. Bahwa ini adalah tanda dari Allah bahwa dia bukan jodohku. Bahwa terlalu dekat masalah hati dengan lawan jenis tak membawa kebaikan. Dan mungkin ini waktunya untuk belajar menjaga hati dan sikap.

Aku tak tahu apakah nantinya akan ada yang bisa menerima segala sisiku. Saatnya memperbaiki diri kemudian berserah. Akan ada saatnya aku benar-benar bisa percaya laki-laki, walau mungkin bukan sekarang. Akan ada saatnya aku bangkit, walau mungkin bukan sekarang. Mungkin kelak aku akan belajar membuka hati saat aku yakin ia tak akan pergi, bisa menerima apa yang telah menjadi masa laluku, mempercayaiku, dan tak lelah membimbingku.

Dan jika kau kebetulan membaca cerita ini, aku harap kau akan terus mendampinginya dan percaya padanya.

Hati-Hati Jalan Rusak Pertigaan Dawuan Cikampek

Standar

Ceritanya kemaren itu habis pulang ke Semarang naik mobil, dan hari minggu, 15 Maret 2015 kita balik lagi ke Jakarta. Berangkat dari Semarang jam setengah 3 sore dengan estimasi jam 1 pagi bisa sampe Bekasi dan jam 2 udah sampe Jakarta jadi masih ada waktu buat tidur sebelum ngantor.

Sebenernya kondisi mobil emang agak-agak nggak fit, tapi harusnya masih kuat buat diajak jalan santai sampe Jakarta. Jalanan lancar, dan semuanya masih berjalan sesuai rencana walau sempet beberapa kali muncul suara suara aneh dari mobil.

Sekitar jam 11 kita udah mulai masuk Cikampek. Karena gerbang Cikopo itu emang selalu macet, bapak emang lebih suka buat masuk atau keluar dari gerbang Dawuan, lewat kawasan pupuk kujang. Nah, sekitar jam setengah 12, kita udah belok di pertigaan Dawuan, dan seneng karena bisa lebih cepet dari rencana. Tapi rencana tinggal rencana. Persis di pertigaan itu ada lubang super besar yang nggak kelihatan karena emang jalannya kegenang air (fyi, sejak dari Semarang hujan nggak berhenti makanya banjir).

pertigaan dawuan

pertigaan dawuan

Kita keperosok lubang dua kali. Pertama bagian kanan, maju dikit gantian yang kiri yang kena. Lubangnya bener-bener dalem, dan nggak ada apapun buat nutup lubang atau petunjuk yang ngasi tau kalo disitu ada lubang. Yang jelas bodi bawah mobil sampe kepentok (padahal mobilnya carnival yang notabene nggak ceper. kalo model sedan mungkin udah nggantung). Begitu lepas dari lubang, muncullah suara aneh dari bagian bawah mobil. Kalo kata kita sih “kemrotog”, bunyi grag grog gitu dari bagian depan kiri.

bukan foto yang sebenernya. yang asli malem dan nggak ada penanda dan lubang nggak kelihatan

bukan foto yang sebenernya. yang asli malem dan nggak ada penanda dan lubang nggak kelihatan, dan ada sekitar 3-4 lubang (lihat depan mobil paling kanan, lubangnya disitu)

Minggir lah kita, tapi belom sampe minggir banget, mobil nya udah nggak mau jalan. Mau masukin gigi pun nggak bisa, dan bunyinya makin kenceng (aku kurang tau istilahnya buat matic apa. Pokoknya dari netral mau maju atau mundur itu). Alhasil, tengah malem, kita cewek-cewek tiga orang sama bapak dorong dorong mobil buat minggir. Setelah berjuang hampir sejam, akhirnya mobil berhasil minggir dengan aman. Mau ngecek nggak kelihatan apa yang rusak. Kata bapak sih kemungkinan gearbox nya lepas (nggak tau deh itu apa).

Bingung dong kita harus gimana. Tengah malem, jalan sepi, nggak ada yang bisa dimintain tolong, musim begal pula. Akhirnya kita semua masuk, ngunci pintu, nutup jendela, buka sunroof biar tetep ada udara (aki lagi agak soak makanya nggak berani nyalain mesin kalo nggak dipake jalan), dan ngandelin google buat cari bantuan.

Pertama sih langsung cari info derek. Tapi nemunya derek jasamarga (secara udah deket tol), tapi kan layanannya nggak bisa dipake kalo bukan di tol. Dapet nomer lagi derek Jakarta. Tapi mau Jasamarga atau Jakarta, dua dua nya ditelfon nggak ngangkat. Kantor polisi terdekat sih cuma 3 km, tapi udah kelewat dan nggak tau gimana kesananya.

Berhubung dulu pernah nelfon 112 dan malah di oper-oper nggak jelas, kita cari nomer polsek cikampek, yang paling deket. E lha kok ya nggak diangkat. Sempet diangkat, tapi nggak ada suaranya. Kan resek, pulsa berkurang tapi nggak dapet bantuan. Cari info nomer polres karawang ya sama aja, nggak diangkat juga. Langsung deh ilfeel lagi sama polisi. Magabut amat. Entah emang nggak ada yang jaga di kantor atau terlalu males dapet laporan makanya telfon nggak diangkat.

Setelah bingung, sekitar jam 2 akhirnya atasan bapak bisa ditelfon dan mau bantu. Karena Pak Ardi itu berangkat dari Jakarta, yang artinya paling cepet sejam baru sampe, kita tidur dulu. O iya, selama kita tidur, ternyata ada mobil yang kena lubang lagi, bemper nya sampe lepas dan terbang gara-gara keperosok. Parah lah.

Bantuan datang, dan akhirnya mobil digeret sampe kantor polisi klari buat dititipin. Sedangkan kita lanjut jalan naik mobil pak Ardi. Mungkin hari ini mobil diambil, dicek, dan dibenerin.

Pesan : Hati-hati kalo mau lewat pertigaan Dawuan. Bener bener bahaya. Padahal di belokan, yang artinya kecepatan kendaraan cenderung rendah aja efeknya fatal. Gimana kalo kenceng? Bisa jadi kecelakaan deh itu. Dan buat polisi, apa iya layanannya nggak 24 jam? Itu ngapain punya nomer telfon kalo nggak bisa dihubungi begitu? Yang jelas kami jadi ilfeel sama petugas, dan tayangan 86 di NET itu mungkin hanya sekedar pencitraan tapi nggak nyata *cih

Copyright

Standar

Copyright alias hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas. (kata wikipedia)

Hak cipta ini biasanya dihubungin ke pembajakan, dan biasanya ngebahas tentang musik atau film. Tapi kali ini aku nggak mau bahas tentang dua hal itu, yang sebenernya aku berusaha hindari tapi kadang-kadang tetep aja beli kaset bajakan atau download dari internet. Kali ini aku mau ngomongin hak cipta di bidang craft.

Di dunia craft, masalah hak cipta ini lebih rumit daripada apa yang kita lihat karena orang dengan mudah ngelihat suatu barang dan menduplikasi ide bahkan barangnya. Nggak jauh beda sama tren model baju yang lagi populer trus semua penjahit ngikutin dan dijual. Tapi untuk barang-barang handmade, ditiru plek ketiplek itu bikin sakit hati juga sih.

Kalo untuk yang jahit menjahit biasanya jarang sih yang ada copyright nya, ya karena masalah itu tadi, semua orang dengan mudah niru dan modifikasi. Untuk masalah rajut, beberapa ada copyright nya, dan ini yang aku berusaha untuk pahami.

Di internet ada banyak tersedia free pattern yang bisa kita pake. Tapi coba deh perhatiin credit pembuat pola. Yang jelas mereka biasanya nyebutin kalo pola itu gratis dan jangan dijual, jangan juga di klaim sebagai pola kita sendiri. Kalo mau nyebarin pola nya ya di link ke blog atau web mereka, jangan di copy paste ke blog kita. Untuk masalah apakah kita boleh jual boneka hasilnya, itu beda-beda. Coba kita lihat gambar di bawah

taken from jennyandteddy.com

taken from jennyandteddy.com

taken from allaboutami.com

taken from allaboutami.com

Di gambar pertama, pembuat pola dengan jelas bilang kalau kita boleh jual boneka yang kita buat dengan pola dia, dan dia nggak ngasih syarat apa-apa. di gambar kedua, disebutin kalau kita boleh make untuk keperluan pribadi (artinya boleh juga kita bikin buat kado ke orang lain), tapi kita nggak boleh jual atau distribusi pola maupun boneka hasilnya.

Emang sih, banyak yang bilang, “Mereka kan jauh, nggak akan tahu kamu jual boneka dari pola mereka. Apalagi kalo udah dimodifikasi.” Tapi entahlah, rasanya jahat aja kalo udah jelas-jelas nggak dibolehin tapi aku masih ngelakuin hal itu.

Tapi gimana dong nasib orang-orang macem saya yang mau cari duit dari sini tapi nggak bisa bikin desain sendiri dan terlalu bokek buat beli pola berbayar (boleh nyalahin kurs nggak)? Sebenernya gampang kok, cari aja pola yang emang udah ngejelasin kalo kita boleh jual boneka nya. Kalo dia nggak ngejelasin, sedangkan kamu suka dan banyak yang suka, gampangnya, kontak aja mereka. Entah via comment box, ataupun via email.

Aku udah tiga kali minta ijin ini, ke pola pola yang kemungkinan sering aku pakai atau memang desainernya bikin banyak pola lucu. Dan biasanya mereka ngijinin kita buat jual kok, asal kita kasih credit yang menyatakan kalau mereka lah desainer boneka nya, kita cuma bikin aja

ijin dari Beth, byhookbyhand.blogspot.com

ijin dari Beth, byhookbyhand.blogspot.com

ijin dari angela, amiguru.tumblr.com

ijin dari angela, amiguru.tumblr.com

ijin dari sylvia, studio-ami.tumblr.com

ijin dari sylvia, studio-ami.tumblr.com

Semudah itu kok kita minta ijin dan nggak ngelanggar hak cipta. Bahkan rata-rata mereka seneng karena kita udah minta ijin.

Happy crocheting 🙂

PS : Alamat-alamat yang aku sebut di atas punya banyak pola gratis yang oke punya. Tapi inget, minta ijin dulu ya kalo mau jual boneka dari pola mereka 🙂

Main-Main ke Taman Ismail Marzuki

Standar

Sebenernya ini latepost sih, tapi nggak papa lah ya, yang penting berbagi. Ahahaha

Buatku, Taman Ismail Marzuki merupakan salah satu tempat favorit buat main. Berhubung aku orangnya emang nggak bisa anteng, jadi tiap weekend pasti cari cari acara. Pertama sih biasanya tanya mbah google lagi ada event apa di Jakarta di hari itu. Kalo nggak ada yang menarik, buka web nya Taman Ismail Marzuki, cari lagi ada kegiatan apa disana. Kalo nggak ada juga ya antara mbolang atau jaga kontrakan.

Sejak merantau, aku udah beberapa kali ke Taman Ismail Marzuki. Emang nggak terlalu sering sih, tapi seru.

Yang pertama, waktu lagi jalan-jalan nggak jelas sama Mamet sama Syafiiq. Awalnya sih aku minta temenin nyari tau dimana gedung PPM, dan waktu liat liat sekitar, kita liat papan penunjuk ke TIM. Jadi ya sudah, jalan lah kita kesana. Tapi sayangnya waktu kita kesana planetarium tutup dan nggak ada event. Jadi cuma muter muter aja disana.

Kedua, kita nonton teater disana. Kebetulan waktu itu temen lagi main dari Semarang, dan tante nya adalah salah satu orang Kayan, penyelenggara rutin teater di TIM. Ya walaupun sebenernya kita nggak dapet tiket, berkat tantenya Cindy, kita tetep bisa masuk dan nonton sambil selonjoran di tangga. Kali itu judulnya Roman Made in Bali. Pertunjukan ini menceritakan tentang dua orang pria. Roman (diperankan Cak Lontong), pra warga negara Kanada dan Made (diperankan oleh Balawan), pria asli Bali. Mereka berdua memperebutkan satu wanita Bali yang canti, Sita (diperankan oleh Ayushita).

Teater ini disutradarai oleh Butet Kertaradjasa. Bukan sekedar teater, tapi disini juga ada humor yang didominasi dari Cak Lontong, Akbar, Marwoto. Beberapa kali Balawan juga tampil diiringi band nya. Ada dua penyanyi yang mengiringi monolog dari Ayushita. Dan ada pesan tentang penolakan reklamasi Bali disana.

Dicintai satu lelaki adalah anugerah. Dicintai dua lelaki sekaligus adalah musibah.

Roman Made in Bali

Roman Made in Bali

Untitled

Untitled

Kali ketiga, kebetulan ada event dari Pekan Komponis Indonesia tentang keroncong. Sebenernya ada rangkaian acaranya, tapi berhubung pada punya kesibukan beda beda, akhirnya kita dengerin salah satu konsernya aja. Namanya janjian sama banyak orang, dan datengnya nggak dalam waktu yang sama, kita masuk waktu pertunjukan udah mulai.

Ada 4 performer malam itu, membawakan keroncong dengan style masing masing. Dari keroncong klasik, hingga keroncong pesisir, semuanya memukau. Rasanya kembali ke masa kecil, waktu itu Papa (sebenernya sih om, tapi aku panggil papa) dan saudaranya Mama sering main keroncong dan latihan di rumah. Beberapa lagu yang dibawakan pun aku sering denger waktu jaman kecil. Dari lagu Bengawan Solo, hingga Caping Gunung. Tak ketinggalan Keroncong Kemayoran, Gambang Semarang, juga Aksi Kucing. Memang beberapa aku baru pertama kali denger, tapi semuanya menghipnotis.

Untitled

Dan minggu kemaren, kita ke TIM lagi. Kali ini buat nonton film gratis sebagai bagian dari rangkaian acara Pameran Aku Diponegoro. Film ini diputar oleh Kineforum, dan ada dua film yang rencananya diputar, Pahlawan Goa Selarong dan November 1828. Keduanya masih berhubungan dengan Pangeran Diponegoro.

Setelah muter-muter dan bingung dimana letak kineforum, sampe sana ternyata masih belom bisa daftar. Alhasil kita liat pameran fotografi dan pasar barang mantan dari Kelas Pagi dulu di Galeri Cipta III. Setelah itu kita balik buat daftar dan nunggu sampe film dimulai. Tiba-tiba, film nya lagi ada masalah, jadi kita ditawarin buat nonton film satu nya, November 1828.

Film ini memamerkan tradisi masyarakat Jawa yang sangat liat untuk ditindas. Di tengah suasana perang Diponegoro, Kapitein De Borst (Slamet Rahardjo), indo yang sangat ingin jadi Belanda murni, hendak membuktikan diri sebagai prajurit hebat. Pembuktian itu bisa diperoleh bila dia berhasil menangkap Sentot Prawirodirdjo, otak peperangan Diponegoro. Kisahnya berlangsung di desa Sambiroto November 1828. Untuk maksud ini, De Borst menggunakan segala cara dan tak memperdulikan nyawa orang. Di pihak lain pengikut Sentot menyusun perlawanan dengan sangat licin, hingga bisa memasuki seluruh lapisan pertahanan Belanda dan selalu tahu rencana-rencana Belanda. Puncak ketegangan adalah konflik antara De Borst dengan Kromoludiro (Maruli Sitompul). Untuk mengetahui persembunyian Sentot, De Borst memaksa Kromoludiro buka mulut, antara lain dengan menyandera istri dan anaknya yang masih bayi. (diambil dari indonesianfilmcenter.com)

Untitled

Saatnya nongkrong sambil mengapresiasi seni anak bangsa, bukan sekedar nongkrong di mall atau cafe mahal 🙂

Buku Buku Favorit

Standar

Kata orang, buku itu jendela dunia, sedangkan mata adalah jendela hati (hasyah). Berhubung belom bisa keliling dunia beneran, jadi baca buku adalah salah satu cara untuk menjelajah. Bahkan dunia yang nggak nyata sekalipun.

Kali ini pengen cerita tentang buku buku yang aku suka. Sebenernya aku punya banyak buku, tapi nggak semua jadi favorit. Ada juga yang aku suka sama buku itu walaupun nggak punya (tukang minjem dimanapun). List ini nggak berdasarkan yang paling favorit, cuma berdasar yang diinget aja.

I warn you, maybe there is some spoiler in my review

1. The Thirteenth Tale – Diann Setterfield

Mungkin novel ini memang nggak terlalu populer di Indonesia, tapi aku suka banget. Awalnya sih tertarik karena cover nya, dan setelah itu jatuh cinta. O iya, ternyata novel ini udah diangkat jadi drama televisi. Inti cerita nya sih tentang penulis biografi, yang lebih tertarik bikin biografi tentang orang mati, yang diminta untuk bikin biografi dari seorang penulis dongeng yang bernama Vida Winter. Tapi dasar pendongeng, alur yang diceritain ya jadi kaya dongeng. Tapi hal ini yang menarik, karena ternyata ada banyak kenyataan tersembunyi di balik kisah masa lalu nya.

A birth is not really a beginning. Our lives at the start are not really our own but only the continuation of someone else’s story.

2. Flowers for Argenon (Charlie si Jenius Dungu) – Daniel Keyes

Bagaimana jika kau terlahir dengan kondisi sebagai anak dungu? Dengan IQ yang hanya 68. Yang bahkan tak tahu kalau kau sedang diejek dan mengira semua orang senang padamu. Bagaimana jika ada kesempatan untuk memperbaikinya? Jika ada yang menawarimu untuk menjadi jenius, lebih pintar dibanding teman-temanmu, memiliki IQ di atas 180, dan terus menjadi lebih cerdas setiap harinya? Apakah kecerdasan itu akan membuat hidupmu lebih baik?

PS : Buku Daniel Keyes tu keren-keren. Kalo mau yang lebih dark, coba baca 24 wajah billy dan sekuelnya, pertarungan jiwa billy

I don’t know what’s worse: to not know what you are and be happy, or to become what you’ve always wanted to be, and feel alone

3. Sherlock Holmes

Read the rest of this entry

friendship

Standar

I’m not gonna talking about bestfriend, just friendship, the simplest one. Karena konsep sahabat menurutku masih terlalu abstrak.

Teman, lebih dari sekedar kenalan. Yang bisa kau ajak berbicara tentang beberapa hal. Tak harus semua hal, paling tidak kalian memiliki hal yang bisa dibicarakan. Yang bisa diajak bertemu walaupun hanya sekedar makan di luar. Yang masih bertukar kabar denganmu walaupun hanya sekedar basa basi.

Aku dari dulu sering pindah sekolah jadi nggak punya banyak temen, dan jadi agak males buat bener bener cari temen. Aku mulai mau nyari temen dan punya beberapa temen deket waktu SMP, tapi sekarang pun udah jarang kontak. SMA baru mulai berubah. Bahkan sempet punya geng. Mulai sering main keluar. Pulang sekolah nggak langsung pulang. Entah sekedar beli es di depan sekolah atau nonton rame-rame.

Dan waktu kuliah bener-bener pengen punya banyak temen. Pengen ikut organisasi. Ikut kepanitiaan. Aktif disana sini. Dan ya memang jadi punya banyak kenalan, punya banyak temen. Tapi tetep, yang bisa dibilang deket cuma beberapa.

Menurutku nggak ada yang namanya temen palsu. Atau mana yang bener temen mana yang bukan. Temen ya temen. Tapi mereka kadang bisa jadi deket, bisa jadi jauh. Not immortal. Kadang temen yang dulunya bener bener deket sekarang udah nggak pernah saling tukar kabar. Yang dulunya biasa aja, sekedar satu kelas, sekarang bisa jadi yang paling sering ketemu dan main bareng.

Tapi emang sedih sih saat sadar mereka mulai jauh tanpa kalian sadari. Saat udah nggak ada lagi yang bisa dihubungi. Dan cuma bisa ngejaga yang sekarang ada.