Tag Archives: puisi

Menulis di Pasar (edisi menulis puisi bersama Aan Mansyur)

Standar

Hari minggu lalu, aku mencoba untuk ikut kelas menulis di pasar yang diadakan post santa. Sebuah kelas dadakan yang dibuat karena kebetulan Aan Mansyur sedang berada di Jakarta dan mampir di post. Dan aku tertarik karena 3 minggu sebelumnya aku membeli salah satu bukunya. Ya, memang pengalaman menulisku, terutama puisi, sangat amat cetek karena itu aku mengikuti kelas ini. Dan karena saat itu aku tak membawa catatan, dan agak rikuh untuk mencatat sambil mendengarkan, mari kita gali gali apa yang tertangkap. Kata-katanya tak akan sama persis, tapi aku akan mencoba menyampaikan maksudnya.

Kelas dimulai dengan perkenalan. Seperti biasa, perkenalan dimulai dengan menyebut nama kemudian kami diminta untuk menyampaikan apa yang suka kami tulis. Dan komentar mas Aan, “Mengapa harus menyebutkan nama terlebih dahulu, seolah itu hal yang paling penting. Padahal malah itu yang paling mudah untuk dilupakan.” Dan benar saja, aku membuktikannya saat diminta untuk menyebutkan apa yang aku ingat dari salah satu peserta. Aku ingat bahwa dia kuliah jurusan sastra, menulis tugas, suka membaca fiksi untuk menambah perbendaharaan kata, melatih imajinasi serta untuk membuat tulisannya lebih enak dibaca. Namanya? Aku tak ingat. “Menulis puisi adalah membunuh hal hal klise semacam itu. Sebenarnya penulis adalah pembunuh.” Dan kemudian ilmu bergulir.

“Bahasa adalah kekuatan utama penulis. Tetapi kau harus berhenti untuk melihat kata sebagai jembatan yang kau gunakan untuk menyampaikan makna. Kau harus melihatnya sebagai semesta. Misal saja namun, tapi dan tetapi. Artinya sama. Tapi coba kau dengar. “Namun tetap mencintaimu”,”Tapi tetap mencintaimu”, “Tetapi tetap mencintaimu.” Kau akan merasa bahwa yang pertama terdengar sumbang. Sedangkan yang kedua terasa putus. Yang ketiga baru pas. Rasanya seperti bermain perkusi dengan kata kata. Kalau kau melihat kata kata hanya sebagai jembatan, hanya akan ada dua kemungkinan yang kau capai. Yaitu terlalu terang atau terlalu gelap.”

“Menulis puisi adalah bagaimana kau membunyikan dan menyembunyikan sesuatu secara sekaligus. Walaupun kata-katanya sederhana, kau harus menaruh layer di dalamnya. Agar semua orang yang memiliki karakter, mood, latar belakang pendidikan, dan segala hal yang berbeda dapat sama sama menemukan sesuatu disana. Orang yang baru patah hati ataupun sedang jatuh cinta, mereka harus sama sama menemukan sesuatu. Lapisan itu yang membuat puisimu kaya, sehingga saat seseorang membacanya lagi, dia dapat menemukan hal baru. Misal sebuah puisi yang saat pertama kau baca kau akan melihatnya sebagai puisi cinta. Kemudian kau membaca berita politik, kau akan merasa bahwa puisi tersebut membicarakan politik. Kemudian kau belajar sosiologi, kau menemukan bahwa puisi tersebut membicarakan sosiologi. Puisi tersebut tidak berkembang, tapi ilmu baru membuatmu baru melihat layer itu.”

“Waktu adalah editor terbaik yang pernah kutemui. Waktu dapat memilah bagian mana dari sebuah peristiwa yang layak ditampilkan dalam sebuah puisi. Waktu pula yang memberitahumu apa yang memicu sebuah kenangan muncul kembali. Misalkan pertemuan ini. Aku akan mengingat segala detail pertemuan ini jika aku melihat bunga ini.” Kemudian ia mengambil bunga yang ada di meja. “Mungkin aku tak tahu namanya, tetapi jika aku melihatnya, aku akan ingat. Seperti itu ingatan bekerja. Tak ada manusia yang benar benar melupakan sesuatu. Dia hanya tak memiliki kemampuan untuk memanggilnya kembali.”

“Dan kalau kau berpikir menulis itu mudah, kau salah. Kau harus menumbuhkan kepekaan. Kau harus melakukan riset walaupun rasanya terdengar salah untuk menggabungkan riset dengan menulis puisi. Tapi misal saja bunga ini. Kau harus bisa menggambarkannya dengan baik agar pembaca menangkap maksudnya. Kau memang tahu bunga ini berwarna kuning. Tapi jangan jangan akan dianggap bunga lain karena ada banyak bunga berwarna kuning. Kau harus tau namanya, aromanya, tumbuh di bulan apa, dan lain sebagainya.”

“Menulis itu pekerjaan penulis. Riset itu pekerjaan penulis. Tidur itu pekerjaan penulis. Bahkan berjalan juga pekerjaan penulis. Kau harus mau berjalan untuk dapat menangkap lebih banyak hal. Contoh jika kau naik mobil, kemudian kau melihat temanmu di jalan. Kau hanya akan tahu bahwa kau melihatnya. Misal kau menggunakan motor, kau akan tahu baju yang ia kenakan yang mungkin saja sama dengan yang ia kenakan 2 minggu yang lalu. Jika kau naik sepeda, kau akan melihat sepatu apa yang dikenakan, atau bersama siapa dia berjalan. Sedang kalau kau berjalan, kau akan bisa menyapanya dan bahkan mencium parfumnya. Semakin cepat kendaraan yang kau gunakan, semakin sedikit yang kau lihat.”

“Dulu aku merasa penulis yang miskin itu romantis seperti di film film. Tapi itu salah. Penulis menjadi miskin karena lebih banyak uang yang ia keluarkan untuk membeli buku dibanding hasil penjualan bukunya. Penulis harus banyak membaca. Penulis pertama menyediakan bahan untuk penulis kedua. Tidak ada yang salah dengan terpengaruh orang besar. Malah seharusnya kau bangga. Dan kau akan menjadi semakin baik setelah banyak menulis ulang. Bahkan Ernest Hemingway membuat 10 versi dari satu cerita untuk dipilih dan kemudian menulis ulang cerita tersebut.”

“Dan puisi tak melulu tentang isi. Puisi adalah bagaimana mengemas isi dan isi membuat kemasannya menarik. Konsep dan bentuk memang harus ikut dipikirkan. Dan tak perlu pusing memikirkan gaya. Menulislah sebanyak-banyaknya hingga gaya menemukanmu.”

Hanya orang yang tak dapat berdamai dengan kesunyiannya yang akan selalu mengejar sesuatu yang sebenarnya semu

Hujan :)

Standar

Hujan yang syahdu
Yang menurunkan beribu harapan
Menyusup dalam rongga rongga tanah, memberi kehidupan pada serangga dan buraian akar yang melesak
Memukul dedaunan sehingga terjatuh ke bumi dengan lembut
Membelai puncak gunung dimana semuanya berlindung
Mengisi ceruk ceruk untuk kemudian diperebutkan

Hujan pulalah yang kembali mengalirkan semua kenangan
Menyembunyikan air mata yang telah terjatuh
Membasuh luka yang menganga

Dan saat hujan pergi, mentari kembali memberi kehangatannya
Menerangi segala sudut hingga tak ada lagi bayang bayang maupun kegelapan
Menyapu berkas berkas air di udara sehingga membentuk pelangi
Melengkungkan busurnya, dengan sebuah hadiah di setiap ujungnya

Dan segala warna itulah yang akan menghiasi dunia, termasuk dunia kecil ini
Dunia kecil yang kau bentuk sendiri
Dengan semua elemen yang kau kumpulkan dari serpihan serpihan debu jagat raya
Mencoba membuat dunia yang aman, walaupun kau tau bahwa tidak selamanya baik baik saja

Hidup itu siklus. Jika kau tau saat ini terjadi badai hebat, jadilah matahari agar saat badai itu pergi akan muncul pelangi. Jika kau tau saat ini matahari sedang bersemangat, jadilah awan agar teriknya tak membakar

Bersiaplah, karena hujan sedang turun. Entah menenangkan, entah membawa petaka

sayap kecil

Standar

assalamualaikum kawan
kita ketemu lagi nih. dan kali ini aku pengen cerita tentang puisi.

semua orang pasti pernah bikin puisi, yang terpaksa dibikin karena tugas dari guru Bahasa Indonesia. tapi nggak semua orang suka dengan puisi. gimana dengan aku? kalo aku, aku suka puisi. tapi bukan puisi yang berkalimat pendek-pendek macam karangan chairil anwar, atau yang lainnya. aku lebih suka puisi yang seperti prosa, yang bercerita secara gamblang, tanpa kehilangan keindahannya. seperti kahlil gibran.salah satu yang aku suka adalah puisi “kau ini bagaimana atawa aku harus bagaimana” ciptaan Gus Mus. sindiran yang mengena, sangat mengena.

aku sendiri suka membuat puisi, tapi bukan puisiku yang akan aku tulis disini, tapi dari orang spesial yang tadi malam memberikannya padaku

 

sayap kecil

Dia berjalan dengan tertunduk
Menangisi sebagian patahan hati
Aku datang mengikuti
Memberi sepasang sayap kecil

Sayap kecil mengitari langkahnya
Berjalan pergi dari kesedihan
Sayap kecil menuntun dirinya
Melihat indahnya kehidupan

Dia berjalan seribu senyum
Dengan sayap kecil yang kuberi
Dia terbebas dari sedih

R.A.